Cerita

Pertemuan Yang Tak Direncanakan

Oleh: Damar • Tanggal Publikasi: 2026-10-18 • Dokumen #10

Pertemuan itu bukan sesuatu yang direncanakan. Damar bahkan tidak sedang mencari siapa pun hari itu. Ia hanya sedang berjalan pulang atau setidaknya berjalan menuju tempat yang pada saat itu dianggap sebagai pulang. Kota kecil tempat ia masih menjadi dirinya yang lama tampak seperti bayangan yang tidak pernah benar-benar meninggalkan dirinya, dan ia berjalan di dalam bayangan itu seperti seseorang yang mencoba mengingat sesuatu yang hampir, hampir saja hilang.
Langit mendung tetapi tidak hujan. Udara lembab dan tanah mengeluarkan aroma yang tak asing: aroma dedaunan basah, bau cat yang memudar pada dinding masjid yang pernah begitu ramai, dan bau angin yang membawa suara yang tidak dapat dijelaskan. Di jalan kecil yang menghubungkan pasar dengan komplek rumah warga, Damar melihat seorang lelaki duduk di teras sebuah pondok kecil yang tidak terlihat seperti rumah atau toko, melainkan seperti bangunan yang sudah lama berhenti memiliki tujuan.
Lelaki itu mengenakan baju koko lusuh, sarung yang warnanya sudah seperti kabut pagi, dan ia memegang tasbih yang bergerak pelan bukan karena ia sedang berzikir, tetapi karena jarinya bergerak mengikuti ritme napas. Wajahnya tidak bisa dibilang tua, tapi tampak lelah dengan cara yang hanya bisa dimiliki seseorang yang pernah melihat terlalu banyak hal yang orang lain tidak pernah tahu.
Damar mengenalnya.
Atau lebih tepatnya: ia pernah mendengar tentang dia.
Seseorang yang dulu sangat aktif dalam organisasi keagamaan. Seseorang yang pernah hampir maju sebagai calon anggota legislatif. Seseorang yang kemudian menghilang begitu saja dari dunia itu.
Orang-orang menyebutnya dengan berbagai nama dan alasan kepergiannya. Ada yang bilang ia kecewa. Ada yang bilang ia kalah. Ada yang bilang ia tersingkir. Ada yang bilang ia tercerahkan. Tidak ada yang tahu mana yang benar. Dan mungkin tak satu pun benar.
Ketika lelaki itu mengangkat kepala dan melihat Damar, ia tersenyum tipis. Bukan senyum menyambut. Lebih seperti senyum seseorang yang sudah mengetahui sesuatu jauh lebih dulu.
“Damar,” katanya pelan.
Seakan nama itu bukan dipanggil, tapi diingat. Damar mengangguk dan duduk tanpa diminta. Teras kecil itu seperti memang menunggu dirinya. Tidak ada yang berbicara selama beberapa saat.
Angin menyentuh daun mangga yang menggantung rendah. Suaranya seperti percakapan yang tidak perlu diterjemahkan. Akhirnya lelaki itu berkata:
“Aku dengar kau akan ke Jakarta.”
Kalimat itu bukan pertanyaan. Lebih tepatnya, itu adalah pernyataan yang sudah lama menunggu saat untuk diucapkan.
Damar ingin menjawab dengan sesuatu yang pasti. Tetapi pada saat itu, keinginan itu terasa seperti suara dari seseorang yang berdiri jauh di belakang dirinya.
“Iya,” jawabnya, hampir seperti gumaman.
Lelaki itu mengangguk. Tasbihnya berhenti bergerak.
“Sebelum kau pergi, ada sesuatu yang harus kau tahu.”
Ia menatap langit, bukan Damar. Seolah jawaban apa pun yang akan ia keluarkan tidak datang dari dirinya, tetapi dari sesuatu yang hanya lewat di dalam tubuhnya.
“Tidak ada orang yang masuk ke dalam sistem politik dengan niat buruk. Setidaknya tidak pada awalnya.”
Ia berhenti. Senyum tipis itu hilang.
“Semua orang datang dengan keyakinan bahwa mereka akan membawa cahaya. Bahwa mereka akan tetap menjadi diri mereka sendiri. Bahwa mereka akan berbeda.”
Damar menelan ludah. Ada sesuatu di dalam dirinya yang mengeras, sesuatu yang tidak ingin mendengar tetapi tidak bisa menutup telinga.
“Tapi sistem itu bukan sesuatu yang kau lihat. Bukan sesuatu yang bisa kau lawan. Sistem itu seperti arus sungai yang jauh lebih dalam daripada yang tampak di permukaan.”
Ia memejamkan mata perlahan. Dan ketika ia membuka mata lagi, matanya seperti melihat Damar dan juga tidak melihatnya.
“Kau bisa melawan arus itu untuk sementara. Kau bisa mencoba tetap berenang. Kau bisa percaya bahwa selama niatmu lurus, kaulah yang mengendalikan langkahmu.”
“Tapi lama kelamaan air akan masuk ke tubuhmu. Dan kau tidak berjuang melawan arusnya lagi. Kau mengambang.”
Kata mengambang keluar seperti suara peringatan.
“Dan saat kau mengambang… kau tidak sadar lagi apakah kau masih hidup atau tidak.”
Kalimat itu menggantung lama di udara. Seperti kabut yang enggan turun. Seperti doa yang tidak pernah sampai kepada siapa pun. Damar menunduk.
“Apa itu sebabnya… engkau berhenti?”
Lelaki itu tertawa. Tawa yang pelan. Tawa yang tidak memiliki bentuk kebahagiaan sama sekali.
“Berhenti? Tidak. Tidak ada yang benar-benar berhenti.”
“Aku hanya keluar dari sungai itu. Tetapi airnya tetap ada di dalam diriku.”
Ia mengetuk dadanya sekali. Lembut, tetapi bunyinya terdengar jelas.
“Jika kau pergi, Damar… kau tidak akan pulang sebagai orang yang sama.”
Damar merasakan sesuatu di dadanya bergerak. Seperti pintu yang terbuka perlahan tanpa suara. Sesuatu yang dingin.
Sesuatu yang benar. Sesuatu yang tidak dapat ia tolak. Namun ia berkata:
“Aku percaya orang itu baik. Yang akan kuserahi diriku untuk membantu.”
Lelaki itu tersenyum lagi. Kali ini ada belas kasihan di senyumnya.
“Sungai tidak peduli seberapa kuat orang yang berada di dalamnya.”
“Bahkan orang baik hanyalah kayu yang hanyut.”
Damar tidak membantah. Karena tidak ada yang bisa dibantah.
Langit perlahan menjadi lebih gelap, meski matahari belum sepenuhnya hilang. Cahaya yang tersisa tampak lelah. Dan untuk alasan yang tidak dapat ia jelaskan, Damar merasa saat itu ia sedang berdiri di ambang sesuatu yang sangat besar. Bukan kesempatan. Bukan masa depan. Bukan kemenangan. Tetapi kehilangan.
Kehilangan yang belum terjadi, namun sudah merasa sakit seperti luka yang dirasakan sebelum tubuh disentuh pisau. Ketika Damar akhirnya berdiri untuk pergi, lelaki itu berkata satu hal terakhir:
“Ingat, ketika kau melihat sesuatu berulang kali di jalanmu hal yang sama, warna yang sama, bentuk yang sama itu bukan kebetulan.”
“Itu adalah tanda bahwa kau sedang dibawa, bukan berjalan.”
Damar terdiam. Lelaki itu tersenyum lagi.
“Dan ketika kau mulai mengambang… kau tidak akan menyadarinya."