Cerita

Air Tanpa Seloka

Oleh: Damar • Tanggal Publikasi: 2026-10-18 • Dokumen #11

Lorong itu tidak pernah kering.
Itu hal pertama yang terpikir dalam benak Damar ketika ia menjejakkan kaki lagi di sana. Tidak peduli musim apa yang tengah berlaku di kota, tidak peduli apakah hujan turun kemarin atau sebulan yang lalu, tidak peduli apakah ada tumpukan sampah yang menyumbat saluran air atau tidak lorong itu tetap basah. Seolah-olah tanah itu menyimpan sesuatu yang tidak bisa menguap begitu saja. Seolah air itu bukan air, melainkan ingatan.
Damar berjalan perlahan, melewati rumah-rumah yang tidak pernah selesai dibangun. Dinding-dinding kamar yang terbuat dari triplek bertumpuk. Paku yang berbeda panjang menahan papan-papan agar tetap berdiri. Bau lem murah dan kayu basah. Bunyi televisi buram dari dalam kamar yang pintunya hanya ditutup tirai kain tipis yang warnanya sudah memudar seperti sesuatu yang lupa memiliki warna.
Ia mendatangi setiap rumah, seperti seseorang yang datang untuk meminta maaf, meski ia tidak tahu kepada siapa, atau untuk apa.
Ia mengetuk pelan di pintu pertama. Seorang ibu keluar, wajahnya penuh senyum seperti seseorang yang sudah terlalu sering memaksakan senyum sehingga ia lupa bagaimana wajah tanpa senyumnya. Mereka berbicara sebentar, tentang anaknya, tentang pelajaran, tentang pekerjaan kecil yang kadang ada kadang tidak, tentang harga beras yang naik turun seperti sesuatu yang tidak pernah selesai diperbincangkan.
Damar mendengarkan. Mengangguk. Tersenyum. Ia mengucapkan kalimat-kalimat penghiburan yang tidak benar-benar ia yakini. Kalimat-kalimat yang terdengar baik bagi telinga, tetapi kosong seperti mangkuk yang terjatuh dan pecah tetapi tetap diletakkan kembali di atas meja.
Ia melanjutkan ke rumah berikutnya. Dan berikutnya. Dan berikutnya.
Semua rumah itu berbeda, tapi sama. Semua wajah itu berbeda, tapi sama. Semua kisah itu berbeda, tapi sama.
Seperti seseorang menulis kisah yang sama berulang-ulang, hanya mengganti nama-nama orang di dalamnya. Damar baru menyadari tangannya bergetar. Tidak jelas karena lelah atau karena sesuatu yang lain. Sampai akhirnya ia tiba di rumah terakhir.
Rumah itu bahkan tidak bisa disebut rumah. Satu ruangan kecil, sempit, dengan dinding separuh bata, separuh kain plastik bekas spanduk caleg lain yang entah siapa. Spanduk itu besar, bergambar wajah seseorang yang sedang tersenyum dengan begitu percaya diri. Senyumnya tampak seperti senyum yang ditarik dari pipi seseorang dengan paksa, seperti garis yang dibuat dengan penggaris, bukan dengan tubuh manusia.
Di sudut ruangan, seorang ibu tua duduk. Tubuhnya kecil, seperti seseorang yang sedang menciut perlahan. Tangannya gemetar meskipun ia tidak sedang melakukan apa-apa. Ia menoleh pada Damar. Tatapannya tidak tajam, tapi dalam. Tidak hangat, tapi tidak pula dingin. Tatapannya adalah tatapan seseorang yang tidak menuntut apa-apa. Dan itu, bagi Damar, jauh lebih menghancurkan daripada permintaan apa pun.
Damar duduk di lantai. Tidak di kursi, karena tidak ada kursi.
Lantai itu dingin, basah, dan berbau tanah yang tidak sempat kering. Ibu itu berbicara.
“Terima kasih sudah mengajar anak-anak,” katanya pelan, suaranya pecah di beberapa tempat seperti piring tua yang retak namun tetap digunakan.
“Tidak ada yang datang ke sini untuk tinggal. Semua hanya singgah, lalu pergi lagi. Tapi kamu datang lagi.”
Kalimat itu sederhana. Namun di mata Damar, kalimat itu pecah menjadi ribuan makna yang tidak bisa ia jangkau semuanya sekaligus. Kalimat itu seperti air yang menyusup melalui celah-celah kecil, tidak terlihat tetapi merembes hingga ke inti tubuh. Damar ingin menjawab. Tetapi ketika ia membuka mulut, suara itu tidak keluar. Yang keluar hanya udara yang tidak memiliki bentuk. Tangannya menutup wajah. Ia tidak tahu kapan ia mulai menangis. Ia tidak tahu apa yang ia tangisi. Apakah ia menangisi anak-anak yang belajar dengan kapur kecil yang patah dua kali? Apakah ia menangisi rumah-rumah yang tidak pernah selesai? Apakah ia menangisi ibu-ibu yang tersenyum agar tidak runtuh? Apakah ia menangisi dirinya sendiri yang tidak pernah tahu apa yang harus ia lakukan?
Ia menangis lama. Begitu lama hingga ia lupa kapan ia mulai. Begitu lama hingga air mata tidak lagi terasa seperti sesuatu yang keluar, tetapi sesuatu yang kembali ke dalam.
Ibu tua itu tidak menenangkannya. Ia tidak menyentuhnya. Ia hanya menatap, seperti seseorang yang melihat hujan yang sudah sangat sering ia lihat. Setelah beberapa lama, ibu itu berkata:
“Tidak apa-apa. Menangis itu seperti air di lorong ini. Tidak perlu alasan. Tidak perlu tujuan. Air hanya mencari tempat untuk berhenti.”
Damar mengangkat wajahnya. Ia melihat ibu itu. Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari Ibu itu tidak pernah berharap hidupnya akan berubah. Namun ia tetap menjalaninya. Setiap hari. Tanpa keluhan. Tanpa protes. Tanpa meminta dunia menjadi adil. Tanpa menuntut siapapun membenarkan sesuatu.
Kesedihan itu menyedihkan. Tetapi kesederhanaan penerimaannya jauh lebih menyedihkan.
Damar terisak.
“Aku… aku tidak tahu apakah… aku pantas ada di sini,” katanya.
Ibu itu tersenyum, perlahan.
“Tidak perlu pantas. Kita semua hanya lewat.”
Kalimat itu tidak dinyatakan dengan putus asa. Kalimat itu tidak diucapkan dengan pasrah. Kalimat itu diucapkan seperti fakta, seperti tanah basah, seperti lorong yang tidak pernah kering. Damar mengangguk. Tapi bukan anggukan setuju.
Lebih seperti anggukan seseorang yang akhirnya menyadari bahwa ia telah berdiri lama di depan cermin yang tertutup kabut.
Dan kabut itu baru saja mulai hilang. Ketika Damar keluar dari lorong itu malam itu, udara terasa berbeda. Bukan karena lorong itu berubah. Tetapi karena sesuatu dalam dirinya telah bergerak. Ia merasa sedih. Ia merasa bersyukur. Ia merasa kecil. Ia merasa hancur. Ia merasa lengkap. Ia merasa hampa. Ia merasa penuh.
Semua itu bercampur, meleleh menjadi satu, seperti air yang mengalir tanpa bentuk. Seperti lorong itu. Dan di tengah langkahnya yang berat, ia menyadari sesuatu, Ia tidak pernah benar-benar hidup sebelum ia melihat hidup yang tidak memilih dirinya. Air masih mengalir di lorong itu. Dan untuk pertama kalinya, Damar tahu, Air itu bukan banjir. Bukan kebocoran. Bukan sisa hujan. Air itu adalah air mata dunia. Dan lorong itu adalah tempat di mana dunia menangis paling jujur.
~~~~
Setelah ibu tua itu pergi, lorong itu tetap dalam diamnya. Namun diam itu tidak lagi netral ia kini mengawasi. Seolah segala permukaan yang lembab dan mengkilap oleh air itu telah menyimpan sesuatu dari Damar: nafasnya, bayangannya, getar kecil yang bergerak di belakang dadanya. Seperti lorong itu telah menandainya, bukan sebagai tamu, tetapi sebagai bagian yang akan kembali, entah cepat atau lambat.
Damar berdiri selama beberapa waktu yang tidak dapat ia ukur. Di tempat itu, waktu tidak teratur; ia melarut, merembes, merayap melalui celah-celah kesadaran. Barulah ketika ia mendengar suara anak-anak memanggil namanya dari ujung lain lorong, ia bergerak. Suara mereka terdengar seperti suara di dalam mimpi riang, tetapi terpisah dari sumber kebahagiaan.
Ketika ia kembali ke tempat belajar, lampu-lampu kecil yang dipasang seadanya menyala seperti bintang-bintang yang tersesat dari langit dan dipaksa menetap di langit-langit kusam. Anak-anak duduk bersila, menunggu dengan buku lusuh di tangan. Mereka menatapnya dengan mata yang besar, mata yang belum mengerti benar tentang kemiskinan, tapi sudah akrab dengan kehilangan.

Damar duduk bersama mereka. Ia membaca. Ia mengajar. Ia tersenyum ketika seharusnya ia tersenyum.
Namun sesuatu telah berubah.
Senyum itu seperti pakaian yang ia kenakan, bukan sesuatu yang tumbuh dari dalam. Dan tidak ada seorang pun yang menyadarinya, kecuali mungkin dirinya sendiri dan lorong yang masih melekat di punggungnya seperti bayangan yang mengerti terlalu banyak.
Lalu datanglah momen itu.
Seorang anak perempuan, kecil, berhijab kusam, wajahnya bersih namun pucat, mendekatinya ketika sesi belajar selesai. Tidak ada yang istimewa dari langkahnya. Namun ketika ia sampai di depan Damar, ia mengangkat wajahnya dan berkata dengan suara yang begitu tenang, seolah ia hanya menyebutkan fakta:
“Kak Damar akan terus datang, kan?”
Tidak ada permohonan di mata anak itu. Tidak ada ketergantungan. Tidak ada drama. Hanya keyakinan polos dari seseorang yang belum pernah melihat alasan untuk meragukan apa pun.
Dan pada saat itu pada saat itulah Damar menjawab dengan mulutnya sebelum pikirannya sempat ikut campur:
“Ya. Aku akan terus datang.”
Kalimat itu jatuh ke tanah seperti koin yang dilemparkan ke sumur yang tidak memiliki dasar. Tidak ada gema. Tidak ada jawaban kembali. Namun sesuatu, sesuatu yang sangat halus namun tidak dapat ditarik kembali, telah terikat.
Anak itu mengangguk, lalu pergi. Begitu sederhana. Begitu kecil. Begitu tenang. Namun di momen itu, Damar membuat janji. Tidak kepada anak itu. Tidak kepada ibu-ibu di lorong. Tidak kepada masyarakat, atau kampanye, atau kebaikan. Ia membuat janji kepada dirinya sendiri janji bahwa ia tidak akan meninggalkan nilai-nilai yang membawanya sampai di tempat itu. Ia tidak menyadari betapa berbahayanya janji yang dibuat tanpa saksi, tanpa ritual, tanpa ruang perdebatan. Janji yang lahir dari kesadaran yang tergores oleh rasa syukur dan rasa bersalah pada saat yang bersamaan. Janji seperti itu tidak bersuara. Dan justru karena itulah, ia menuntut paling keras ketika saatnya tiba.
Damar tidak tahu bahwa janji itu kalimat sederhana “Aku akan terus datang” akan menjadi beban pertama yang membuat dirinya mulai retak. Karena kelak, ketika ambisi mulai menyelinap, bukan sebagai tamu, tetapi sebagai tuan rumah ketika suara-suara di kampanye menjerit tentang kemenangan, elektabilitas, strategi, pengaruh, peta suara, basis massa, ketika ia harus memilih antara satu malam saja kembali ke lorong itu atau menghadiri rapat penting yang memutuskan masa depan politik seseorang yang disebutnya pemimpin, ketika ia harus memilih antara wajah anak perempuan itu dan suara mobil-mobil merah yang melintas dalam pikirannya ia akan memilih yang terakhir. Dan bukan hanya sekali. Tetapi berkali-kali. Sampai janji itu bukan lagi sesuatu yang dilanggar, melainkan sesuatu yang dilupakan. Dan pelupaan lebih kejam daripada pengkhianatan. Sebab orang yang mengkhianati masih mengingat apa yang ia tinggalkan. Orang yang lupa, tidak meninggalkan apa pun. Ia hanya menghapus.
Di kemudian hari, ketika suara mobil merah itu menjadi hukum baru dalam dirinya, ia tidak lagi mengingat anak itu, atau lorong itu, atau ibu tua itu, atau air mata yang jatuh dengan tenang.
Namun lorong itu, dengan segala basahnya yang tidak bisa mengering, akan selalu mengingatnya. Lorong tidak pernah lupa. Lorong adalah tempat janji-janji jatuh, membusuk, dan pulang sebagai sesuatu yang lain. Dan kelak, ketika saatnya tiba, lorong akan memanggil Damar kembali. Tidak sebagai penolong. Tetapi sebagai seseorang yang berhutang.