Mobil Merah Dalam Pandangan
Yang berubah dalam tim kampanye bukan terjadi dalam satu malam. Tidak ada peristiwa dramatis yang membuat semua orang sadar bahwa mereka telah menyeberangi batas tertentu. Perubahan itu terjadi perlahan, seperti udara yang semakin lembap tanpa ada yang benar-benar menyadarinya sampai dinding-dinding mulai berjamur.
Awalnya, perjalanan kampanye adalah perjalanan keikhlasan. Begitu setidaknya yang dipercaya bahwa mereka melakukan ini demi sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang tidak memiliki bentuk tetapi terang, seperti cahaya yang memancar dari tubuh seseorang yang tidak perlu diperkenalkan. Damar mempercayai itu. Atau, lebih tepatnya, ia meyakinkan dirinya bahwa ia mempercayainya. Terkadang keyakinan bukan lahir dari pemahaman, tetapi dari kebutuhan untuk terus bergerak.
Namun semakin banyak wilayah yang dikunjungi, semakin banyak tangan yang dijabat dan dilepaskan, semakin banyak janji yang dilontarkan dan jatuh di jalan sebelum mencapai siapapun, sesuatu yang lain mulai tumbuh: dorongan untuk menang. Bukan dorongan yang jujur dan lugas, tetapi dorongan yang membenamkan diri dalam tubuh, menyusup ke aliran darah, dan mengubah cara melihat dunia.
Yang menjadi pemicunya bukan peristiwa besar. Hanya sebuah pengamatan kecil, hampir sepele.
Mobil merah.
Pada awalnya, mobil itu hanya kebetulan. Muncul satu kali, di persimpangan sepi, ketika tim kampanye sedang melaju dengan kelelahan menggelayut seperti beban tak terlihat. Seseorang menyebutnya tanpa maksud apa-apa:
“Itu mobil merah. Lucu juga, ya.”
Tidak ada yang menanggapi. Mobil itu berlalu seperti objek lain dalam dunia yang terus berputar.
Namun mobil merah itu muncul lagi. Di kota lain. Di waktu yang berbeda. Tidak pernah terlalu jelas apakah itu mobil yang sama atau hanya kebetulan yang kebetulan lain. Tetapi setiap kali ia muncul, percakapan dalam mobil tim kampanye terhenti sejenak, seperti ada sesuatu yang berusaha diingat, tetapi gagal diingat. Kemudian mobil merah muncul lagi. Lagi. Lagi. Dan lagi.
Pada titik tertentu, tidak ada yang berani menyebutnya. Tetapi semua mata selalu menemukannya. Di pinggir jalan, di belakang pasar, di tikungan dekat kantor kelurahan, di depan sekolah yang cat temboknya mengelupas. Mobil merah itu selalu ada. Tidak dekat, tidak jauh. Hanya cukup terlihat.
Damar mulai merasakannya seperti tatapan. Tatapan yang tidak datang dari luar, tetapi dari dalam dirinya sendiri, seolah ia adalah pengamat dan yang diamati pada waktu yang sama.
Lalu rekan yang paling tua, pria berwajah keras dengan kerutan yang tidak memberi ruang bagi senyum, berkata:
“Kita tidak lagi pergi untuk memberikan sesuatu. Kita pergi untuk mengambil sesuatu.”
Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada tertentu. Tidak marah, tidak sedih. Hanya dingin, seperti pisau yang diletakkan di atas meja tanpa ancaman, tetapi tetap pisau.
Tidak ada yang menjawab. Karena semua orang tahu itu benar.
Keikhlasan adalah benda yang rapuh. Ia pecah bukan karena dipukul, tetapi karena digenggam terlalu lama. Dan dalam genggaman itu, ambisi tumbuh seperti jamur yang gelap, lembap, dan sulit dibersihkan.
Perjalanan tim kampanye berubah.
Di dalam mobil, percakapan menjadi pendek, praktis, dan tajam. Tidak ada lagi diskusi tentang cita-cita, atau masa depan, atau apa yang mereka ingin perbaiki. Yang ada hanya perhitungan: suara di RW ini, potensi relawan di kelurahan itu, siapa yang harus ditemui, siapa yang harus dihindari.
Wajah orang-orang yang mereka temui pun berubah. Atau mungkin wajah-wajah itu sama, namun mereka yang berubah cara melihatnya. Dulu, orang-orang itu adalah manusia dengan kisah, dengan luka, dengan harapan. Sekarang, mereka adalah angka. Angka yang bergerak, angka yang bisa ditambah, dikurangi, dipengaruhi, digiring. Angka yang jika tidak menguntungkan harus dilewati, seperti jalan rusak yang bisa dihindari dengan memutar sedikit.
Damar tidak tahu kapan ia mulai memandang mereka seperti itu. Yang ia tahu hanya bahwa pandangannya tidak lagi menyentuh mata orang-orang itu. Ia melihat mereka, tetapi ia tidak melihat mereka.
Pada satu titik, ia menyadari bahwa ia bahkan tidak lagi mengingat nama seseorang yang sebelumnya ia rangkul dengan begitu hangat. Ia mencoba mengingat wajahnya tetapi wajah itu larut, berubah menjadi kabut, hilang dalam kerumunan.
Perubahan itu tidak membuatnya marah. Tidak pula sedih. Hanya ada kekosongan yang dalam dan tenang. Kosong seperti jalan panjang yang tidak memiliki ujung.
Mobil merah muncul lagi.
Kali ini tepat di depan rombongan. Jalan itu sempit, tidak memungkinkan untuk menyalip dengan mudah. Mobil merah melaju perlahan, sangat perlahan, seperti sengaja memaksa mereka untuk mengikuti ritmenya. Tidak ada alasan untuk curiga. Tetapi suasana dalam mobil menjadi berbeda lebih sunyi, lebih padat, lebih waspada.
“Jangan bilang apapun,” kata pria tua itu.
Tidak ada yang berniat berbicara. Tetapi larangan itu justru membuat kehadiran mobil merah menjadi lebih jelas, lebih nyata, lebih penuh makna.
Damar menatap mobil itu. Lampu remnya berkedip pelan ketika mobil itu berhenti di lampu merah. Cahaya merah itu memantul di kaca depan mobil tim kampanye, menyoroti wajah Damar dari bawah, memberi efek seolah ia sedang duduk di ruang interogasi yang tak terlihat.
Saat itu, Damar menyadari sesuatu:
Ambisi bukan sesuatu yang datang dari luar. Ambisi adalah sesuatu yang bangun dari dalam, perlahan, tanpa suara. Ia tumbuh dari rasa ingin dimengerti, ingin dikenal, ingin diterima, ingin diingat. Dan lebih dari itu ambisi datang dari ketakutan untuk hilang. Karena dalam politik, tidak ada yang diingat kecuali yang menang. Dan Damar tidak ingin hilang.
Mobil merah bergerak lagi.
Tim kampanye mengikuti. Entah siapa yang memimpin siapa. Yang jelas, perjalanan itu tidak lagi terasa seperti perjalanan menuju kemenangan. Tetapi seperti perjalanan menuju sesuatu yang tidak bisa dijelaskan sesuatu yang gelap, tenang, dan tidak dapat dihindari.