Cerita

Teman Kecil

Oleh: Damar • Tanggal Publikasi: 2026-10-18 • Dokumen #12

Pada hari-hari tertentu, ketika jadwal kampanye tidak begitu padat dan suara-suara para koordinator lapangan mereda menjadi dengung samar di belakang kepalanya, Damar akan berjalan ke gang sempit di belakang posko. Gang itu bukan tempat yang istimewa; ia hanyalah lorong yang lebih sempit dari semua lorong yang pernah Damar lihat sebelumnya. Dinding-dindingnya begitu dekat satu sama lain sehingga dua orang berjalan berdampingan harus menahan napas agar tidak saling bergesekan. Bau air tergenang, karat besi, tanah basah dan sisa detergen dari cucian yang tak pernah selesai menggantung di udara.
Dan di sanalah ia bertemu temannya anak itu.
Tidak ada yang tahu dari mana anak itu datang. Bahkan para warga yang tinggal di sepanjang gang, yang mengenal satu sama lain hingga ke riwayat pertengkaran keluarga paling sepele sekalipun, mengangkat bahu ketika ditanya. Anak itu selalu ada di sana, seolah lorong yang lembab itu adalah tubuhnya dan ia tumbuh dari sela-sela retakan lantai.
Anak itu selalu menatap Damar dengan mata besar yang kehitaman, bukan mata cerah yang polos, tetapi seperti mata seseorang yang telah hidup terlalu lama, atau mungkin seseorang yang telah menyaksikan terlalu banyak meski tidak bisa berbicara tentang apa yang ia lihat. Namun ia tertawa seperti anak kecil. Tertawa seperti dunia itu ringan, meskipun ia adalah saksi dari dunia yang tak bisa dijelaskan.
Nama anak itu kalau anak itu memang memiliki nama tidak pernah stabil. Ada hari ketika Damar merasa yakin bahwa ia bernama Jati. Hari lain, ia yakin namanya Tomo. Kadang anak itu tidak memiliki nama sama sekali. Setiap kali Damar mencoba mengucapkannya, ia seperti menguap dari lidahnya, lenyap di udara yang pengap.
“Namaku cukup,” kata anak itu suatu hari sambil memungut batu kecil dari tanah.
“Cukup apa?”
“Cukup,” ulangnya, seolah itu jawaban paling lengkap yang pernah ada.
Damar tidak menertawakan, tidak pula mencoba mengerti. Ia hanya menerima. Sebab di tempat itu, pemahaman bukanlah sesuatu yang dicari. Ia adalah sesuatu yang diam-diam hadir, seperti rasa sakit yang muncul tanpa sebab.
Damar menemukan ketenangan ketika duduk bersamanya. Anak itu tidak pernah meminta apa pun. Tidak pernah menuntut perhatian. Tidak pernah bertanya kenapa Damar datang atau kenapa ia pergi. Ia hanya hadir dan menatap dengan tatapan yang tidak mengikat apa pun, tidak memaksa sesuatu terjadi. Tatapan yang menyisakan ruang bagi seseorang untuk bernafas.
Damar tidak menyadari betapa pentingnya ruang seperti itu, hingga ia menyadari bahwa setiap interaksinya di luar gang itu penuh dengan tuntutan: tuntutan strategi, tuntutan kemenangan, tuntutan keyakinan, tuntutan ketegasan, tuntutan untuk tidak terlihat ragu.
Namun bersama anak itu, tidak ada tuntutan.
Mereka hanya duduk. Kadang saling diam. Kadang bermain batu kecil. Kadang menggambar garis-garis tidak jelas di tanah becek yang cepat hilang oleh tumit orang lewat.
Anak itu akan sesekali berkata sesuatu yang terdengar seperti kebijaksanaan kuno:
“Kalau kamu berjalan terlalu cepat, kamu tidak tahu tanah seperti apa yang kamu injak.”
Atau:
“Kita tidak bisa memilih siapa yang tersesat. Kita hanya bisa memutuskan siapa yang tetap tinggal.”
Atau:
“Orang-orang besar itu seperti pintu. Tapi kamu harus lihat apakah pintunya benar-benar menuju ruang, atau hanya gambar pintu di dinding.”
Damar tidak pernah mengerti sepenuhnya. Tetapi kalimat-kalimat itu menempel padanya, seperti uap di cermin kamar mandi kabur tapi ada.
Suatu hari, ketika langit tampak lebih rendah dari biasanya seolah awan menunduk agar dapat mendengar percakapan bumi Damar duduk bersama anak itu lebih lama dari biasanya. Di luar gang, suara kampanye sedang ramai; seseorang sedang berteriak dengan pengeras suara, menjanjikan sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak yakin akan terlihat bentuknya suatu hari nanti.
“Kamu lelah,” kata anak itu tanpa melihat Damar.
Damar mengangguk pelan.
“Kamu ingin berhenti,” lanjut anak itu.
Damar tidak menjawab.
“Kamu tidak berhenti bukan karena kamu tidak bisa berhenti,” anak itu meneruskan, “tapi karena kamu merasa ‘janji’ itu sudah menjadi bagian dari tubuhmu.”
Damar menoleh pelan. Untuk pertama kalinya, ia merasa anak itu menatap jauh ke dalam dirinya, bukan sekadar melihat wajahnya.
“Janji itu akan tumbuh,” kata anak itu. “Seperti jamur yang tumbuh di dinding basah. Awalnya kecil. Lalu perlahan menjadi bagian dari bangunan itu sendiri. Dan siapa pun yang menyentuh dinding itu akan ikut terinfeksi.”
Damar merasakan sesuatu mengencang di dadanya, seperti tali yang tidak terlihat tiba-tiba ditarik.
“Kamu tahu,” Damar berkata, suaranya lebih rendah daripada bisikan, “kadang aku merasa seperti… seperti aku bukan lagi diriku sendiri.”
“Bukan ‘kadang’,” jawab anak itu.
Diam panjang berlangsung. Bukan diam yang kosong. Diam yang penuh. Diam yang membawa sesuatu.
“Kalau kamu merasa kehilangan dirimu,” anak itu melanjutkan, “mungkin yang hilang itu bukan kamu. Mungkin kamu hanya kembali menjadi bentuk yang lebih awal.”
“Lebih awal?”
“Yang sebelum kamu memilih pintu itu.”
Pintu apa? Damar hampir bertanya tetapi kata itu tidak perlu dijelaskan. Ia tahu. Ia tahu. Ia tahu.
Hari-hari bersama anak itu menjadi oasis rahasia dalam padang kesibukan yang semakin padat. Namun perlahan, sesuatu mulai berubah, bukan pada anak itu, tetapi pada Damar. Ia mulai datang lebih jarang. Ia mulai datang dengan pikiran yang tidak lagi hadir penuh. Ia mulai datang sambil membawa suara-suara lain di dalam kepalanya.
Suara rapat. Suara target suara. Suara elektabilitas.
Suara strategi. Suara mobil merah. Anak itu tetap sama. Tetap duduk. Tetap menunggu. Tetap tidak meminta. Namun setiap kali Damar pergi, ia merasa seperti meninggalkan sesuatu yang penting. Sesuatu yang tidak dapat ia beri nama. Ia merasa tubuhnya pulang ke posko, ke rapat, ke strategi. Namun jiwanya tertinggal di gang itu.Dan gang itu semakin basah. Semakin sunyi. Semakin hidup.
Hingga suatu sore yang aneh sore yang berwarna hijau keabu-abuan, seperti dunia sedang menahan napas Damar mendapati gang itu kosong. Tidak kosong dalam arti tidak ada orang. Orang-orang masih berlalu-lalang membawa ember, tali jemuran, botol plastik bekas, sandal jepit yang kehilangan pasangannya. Tetapi anak itu tidak ada. Damar menunggu. Dan menunggu. Dan menunggu.
Ia duduk di tempat yang selalu menjadi tempat mereka. Ia menunggu sampai suara kampanye di luar mereda. Ia menunggu sampai lampu-lampu gang mulai menyala satu per satu seperti kunang-kunang yang dipaksa memancar. Ia menunggu sampai ia merasa ia telah menjadi bagian dari dinding.
Tetapi anak itu tidak datang. Seseorang lewat dan berkata tanpa berhenti berjalan
“Ah, kau mencari dia? Anak itu selalu seperti itu. Datang, pergi. Tidak ada yang tahu kapan dia muncul. Kau tahu kan, dia bukan… seperti kita.”
Damar ingin bertanya apa maksudnya. Namun kata itu hilang di tenggorokannya. Malam turun. Tanpa izin. Tanpa kehormatan. Tanpa salam. Dan Damar pulang ke posko dengan langkah yang terasa seperti milik orang lain. Namun ketika ia hendak masuk, ia berhenti. Karena untuk pertama kalinya, ia menyadari Ia tidak pernah tahu apakah anak itu benar-benar ada.
Jika ia menceritakan tentang anak itu kepada timnya mereka mungkin akan mengangguk sopan, lalu kembali berbicara tentang strategi.
Jika ia menceritakan tentang anak itu kepada masyarakat mereka mungkin akan mengangguk, lalu mengatakan semua anak di sini seperti itu.
Jika ia menceritakan tentang anak itu kepada dirinya sendiri dirinya mungkin akan diam. Dan diam adalah sesuatu yang tidak dapat dibantah.
Namun…
Beberapa minggu kemudian, ketika kemenangan semakin dekat, ketika strategi semakin matang, ketika suara kemenangan mulai terdengar bahkan sebelum pemilu dimulai, ketika ruangan-ruangan rapat mulai terasa terlalu sempit untuk menampung ambisi…
Damar melihat sesuatu.
Di kerumunan kampanye, di antara poster-poster besar dengan wajah yang tersenyum paksa, di antara suara-suara yel-yel, di antara asap rokok yang menggantung rendah Ia melihat anak itu. Anak itu berdiri diam. Tidak tersenyum. Tidak menyapa. Tidak meminta. Hanya melihat.
Dan di antara mereka, hanya satu kalimat yang melintas tanpa suara:
“Kamu lupa.”
Dan di momen itu, Damar tahu bahwa kebahagiaan yang ia rasakan saat bersama anak itu bukanlah hiburan sementara. Itu adalah dirinya sendiri. Dan ia telah meninggalkannya. Bukan karena ia terpaksa. Tetapi karena ia memilih. Dan pilihan sekali dibuat tidak dapat dibatalkan tanpa kehilangan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada kemenangan atau kekalahan Diri sendiri.