Cerita

Mendengarkan dan Diam

Oleh: Damar • Tanggal Publikasi: 2026-10-18 • Dokumen #13

Hari itu tidak memiliki cahaya yang utuh. Matahari menggantung di langit seperti benda yang lupa menjalankan tugasnya. Sinar yang seharusnya jatuh lurus tampak condong, seperti seseorang yang berjalan pulang larut malam dalam keadaan setengah sadar. Damar berjalan mengikuti rombongan, langkahnya terukur, tidak cepat, tidak pula lambat, seakan tubuhnya sedang digerakkan oleh sesuatu yang bukan kemauannya sendiri.
Gang-gang sempit itu menerima mereka tanpa perasaan. Dinding-dinding lembab dan saluran air yang tak pernah kering menciptakan bunyi berulang, seperti napas panjang kehidupan yang tidak pernah mendapat istirahat. Rumah-rumah berdempetan, bukan karena desain, tetapi karena keterpaksaan yang telah berlangsung terlalu lama hingga terlihat seperti takdir.
Masyarakat perlahan keluar dari pintu-pintu yang kusam. Tidak ada sambutan meriah. Tidak ada musik. Tidak ada kain warna-warni. Yang ada hanya wajah-wajah yang terlatih menyembunyikan harapan agar tidak terlihat terlalu berharap.
Damar berdiri tidak di tengah, tidak di depan, dan tidak pula di belakang. Ia berada di sebuah titik yang tak pernah tepat dalam ruang manapun titik yang memungkinkan dia melihat tanpa terlihat, mendengar tanpa dipanggil untuk menjawab.
Orang-orang mulai berbicara kepada sang calon. Ada yang bertanya tentang pekerjaan, tentang harga beras, tentang banjir, tentang sekolah. Tetapi setiap kalimat yang diucapkan seolah patah sebelum mencapai udara bebas, seolah ada sesuatu yang menggantung dan menahannya. Kata-kata itu tidak pernah sepenuhnya selesai. Dan justru pada ketidakselesaian itu, orang-orang beralih menatap Damar. Bukan karena mereka mengenalinya. Bukan karena ia penting. Melainkan karena ia tidak mengatakan apa-apa.
Diamnya terasa seperti ruang kosong yang bisa diisi, dan orang-orang yang datang ke sana tidak mencari jawaban mereka hanya mencari tempat untuk menyimpan sebagian dari beban mereka.
Seorang lelaki dengan tubuh kurus dan wajah yang dihuni garis-garis yang terlalu banyak untuk usianya mendekat. Ia tidak menyapa. Ia hanya berdiri di sebelah Damar, menatap lorong panjang yang seakan tak pernah berakhir.
“Aku dulu bekerja di pelabuhan,” katanya, seolah melanjutkan percakapan yang sudah berlangsung sejak lama. “Tidak ada yang besar. Hanya mengangkat barang. Tapi aku tahu kapan hujan akan datang hanya dari bau angin.”
Ia tertawa, pelan, seperti seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang sudah lama hilang namun tak tahu apa kegunaannya. Kini ia tidak bekerja lagi. Dan ia tidak bertanya tentang peluang. Ia hanya ingin ada yang tahu bahwa dirinya pernah memiliki kemampuan membaca angin.
Damar mendengarkan. Tidak mengangguk. Tidak memberi jeda basa-basi. Tidak menawarkan harapan. Dan lelaki itu tampak lega seolah dengan mendengar tanpa menjawab, Damar telah mengakui keberadaannya.
Di sisi lain, sang calon terus berbicara. Suaranya lembut, penuh kepastian, namun seperti suara yang datang dari balik jendela tertutup. Tidak salah. Tidak pula benar. Hanya tidak menyentuh sesuatu yang nyata.
Kemudian seorang perempuan muncul. Membawa anak kecil di pinggulnya. Rambutnya berantakan, tetapi cara ia memegang anaknya menunjukkan cinta yang tidak pernah diiklankan.
“Kalau dia demam, saya hanya bisa kompres,” katanya tanpa diminta. “Tidak ada yang bisa saya lakukan lebih. Saya tidak berharap apa pun. Saya hanya ingin ada tempat bercerita. Rumah ini terlalu sempit kalau diam.”
Rumah terlalu sempit untuk diam. Kalimat itu menempel di tubuh Damar seperti debu yang tidak mau lepas. Semakin lama ia berada di antara mereka, ia merasa bahwa kampanye ini bukan tentang janji pembangunan. Mereka tidak menuntut jalan baru, jembatan, fasilitas air, atau beasiswa. Mereka hanya ingin seseorang yang akan duduk bersama mereka dalam keheningan. Keheningan adalah bentuk paling jujur dari keberadaan.
Damar merasakan sebuah rasa yang tidak ia kenal sebelumnya. Rasa itu bukan sedih. Bukan iba. Bukan empati heroik yang dramatis. Rasa itu adalah kesadaran bahwa mereka tidak meminta untuk diselamatkan. Mereka hanya ingin terlihat. Dan ia menyadari:
Untuk waktu yang lama, bahkan dirinya tidak merasa terlihat.
Ketika rombongan mulai berpindah, seseorang lelaki tua yang duduk di kursi reyot menatap Damar dalam-dalam. Bukan dengan curiga, bukan pula dengan hormat. Tatapannya seperti seseorang yang sedang melihat sesuatu yang akan pergi jauh. Tanpa diminta, ia berkata pelan:
“Jangan pikir kami ingin kau mengerti.”
Damar menunggu.
“Kamu hanya perlu mengingat kami. Karena suatu hari nanti, ketika kamu lupa siapa dirimu… Wajah-wajah kami akan datang kembali. Bukan untuk menagih. Tapi untuk menunjukkan siapa kamu dulu.”
Damar tidak menjawab. Ia tidak bisa. Karena ia tahu, pada saat itu, bahwa ia sudah mulai lupa dirinya perlahan, sunyi, dan tanpa ia sadari. Dan ingatan itu tentang mereka yang hanya ingin didengar kelak adalah sesuatu yang akan ia khianati. Bukan karena niat. Namun karena sistem selalu menelan orang yang masuk ke dalamnya. Dan Damar telah mulai masuk. Tanpa mengetahuinya.