Cerita

Humor

Oleh: Damar • Tanggal Publikasi: 2026-10-18 • Dokumen #14

Kampanye hari itu berlangsung di sebuah lapangan yang mestinya pernah dirancang untuk menjadi taman bermain, namun entah bagaimana berubah menjadi ruang segala kemungkinan yang tidak terlalu jelas batasnya. Ayunan yang dahulu mungkin berayun kini hanya tinggal rantai besi yang tergantung seperti keputusan-keputusan yang tak selesai. Rumput tidak tumbuh, tanah tidak pula kering. Segalanya seolah berada pada kondisi menunggu, namun tak ada yang tahu apa yang sedang ditunggu.
Anak-anak berlarian di sekitar rombongan. Mereka tidak benar-benar tertarik pada politik. Tetapi melihat orang dewasa berkumpul selalu menciptakan semacam kegembiraan. Damar berdiri di sisi lapangan, mencoba menemukan tempat di mana ia tidak terlalu diperhatikan, namun tetap cukup dekat untuk dianggap hadir.
Dari arah yang tidak jelas, seorang anak kecil berusia sekitar tujuh tahun, mungkin berlari ke arah Damar sambil membawa sesuatu di tangannya. Dengan penuh kemenangan, ia mengangkat benda itu seperti seorang penemu besar.
“Kak! Lihat! Aku nemu uang!”
Damar melihat lebih dekat. Itu bukan uang. Itu selembar kertas pembungkus sabun mandi, lusuh, sedikit basah, dengan tulisan angka besar yang entah awalnya dimaksud sebagai harga atau semacam kode. Damar tersenyum, sangat kecil. Anak itu tersenyum, sangat besar.
“Berapa nilainya?” tanya Damar.
Anak itu berpikir, sungguh-sungguh berpikir, seolah apa pun yang ia katakan akan masuk ke buku catatan besar yang menentukan masa depan dunia.
“Kayaknya… cukup buat beli mimpi,” jawabnya akhirnya.
Orang-orang di sekitar tertawa. Bukan tawa lega. Lebih seperti tawa ketika seseorang hampir jatuh antara kasihan dan tidak tahu harus apa. Seorang ibu mendatangi mereka, menarik lengan si anak.
“Jangan ganggu kakak,” katanya. Tapi anak itu menoleh sambil berkata:
“Enggak, Bu. Kakaknya nggak keganggu. Kakaknya malah kelihatan capek. Biar saya yang hibur.”
Kalimat itu jatuh begitu saja. Dan semua orang, termasuk Damar, tahu bahwa yang dikatakan itu benar dan sedikit terlalu jujur.
Di sisi lapangan, seorang remaja duduk di atas ban bekas, mengunyah permen dengan keseriusan seorang filsuf. Ia menyimak orasi sang calon, lalu berkata kepada temannya:
“Kalau beliau terpilih, kira-kira lapangan ini jadi lebih bagus nggak?”
Temannya menjawab:
“Nggak tahu. Tapi kalau enggak terpilih juga lapangannya tetap begini.”
Keduanya tertawa tawa yang terdengar seperti seseorang sedang menambal atap bocor dengan daun pisang saat hujan turun. Damar mendekat, hanya untuk mendengar lebih jelas. Remaja itu menoleh kepadanya.
“Kak, kalian semua datang buat bantu kami, kan?”
Pertanyaan sederhana. Tanpa tuntutan. Tanpa nada sinis.
Namun ia menatap Damar seperti seseorang yang telah berkali-kali bertanya dan berkali-kali menerima jawaban yang tidak pernah tinggal lama.
Damar hendak menjawab ketika tiba-tiba seorang kakek datang membawa kursi plastik beserta tikar yang tampaknya sudah lebih tua dari dirinya sendiri. Ia meletakkannya di bawah satu-satunya pohon di lapangan itu, yang entah bagaimana masih hidup meskipun terlihat seperti sudah menyerah sejak lama.
“Sini,” kata kakek itu kepada Damar. “Duduk. Capek kan? Di kampanye itu, yang paling capek bukan yang bicara. Yang paling capek itu yang mendengar.”
Ia tertawa, tetapi tawanya terdengar seperti daun yang rapuh patah oleh angin. Damar duduk. Kakek itu ikut duduk.
Mereka tidak berbicara cukup lama untuk membuat orang lain melihatnya sebagai percakapan yang berlangsung padahal yang terjadi adalah ketiadaan percakapan yang lebih jujur dari kata apa pun. Anak-anak kembali berlarian. Remaja kembali bercanda. Sang calon terus bicara. Warga terus mendengarkan. Namun tidak ada yang benar-benar tertawa.
Kegembiraan itu hadir hanya sebagai gerak tubuh, bukan keadaan hati. Seperti boneka kayu yang bergerak karena tali-tali yang tak terlihat. Lalu, tanpa konteks apa pun, anak kecil yang tadi datang kepada Damar berteriak:
“Kalau kakak balik lagi, aku mau tunjukin tempat rahasia!”
Suasananya berubah, sangat halus, tapi nyata. Seseorang bertanya sambil tertawa:
“Tempat rahasia apa?”
Anak itu menjawab:
“Tempat kita bisa lupa sebentar.”
Kini tidak ada yang tertawa.
Karena semua orang tahu apa yang ia maksud. Mereka semua punya tempat semacam itu. Mungkin sebuah memori.
Mungkin seseorang. Mungkin sepotong harapan kecil yang disimpan dalam lipatan pakaian. Tempat di mana beban menjadi sedikit lebih ringan bukan hilang, hanya tidak terasa untuk sementara. Dan itu cukup. Damar merasakan sesuatu menegang di dalam dadanya. Ia tidak menangis. Tidak ada yang pecah. Namun seperti ada pintu yang terbuka sedikit, memperlihatkan ruang yang selama ini ia hindari.
Di akhir kunjungan itu, sebelum rombongan pergi, kakek itu menepuk pundaknya.
“Kau akan kembali, kan?”
Dan Damar menjawab:
“Iya.”
Tapi kalimat itu tidak lagi terdengar seperti janji. Ia terdengar seperti doa-doa seseorang yang takut dirinya sendiri tidak sanggup memenuhinya. Dan seluruh lapangan, dengan tanah yang menunggu, pohon yang setengah hidup, dan tawa yang tidak pernah lengkap menjadi saksi dari sesuatu yang akan hilang.