Cerita

Lorong Tak Berujung

Oleh: Damar • Tanggal Publikasi: 2026-10-18 • Dokumen #15

Konflik itu tidak datang dengan suara keras. Tidak ada yang membanting pintu, tidak ada teriakan, tidak ada kata-kata kasar yang menghantam udara seperti batu. Konflik itu datang seperti asap, perlahan, tanpa bau, tanpa warna, namun ketika semua menyadarinya, ruangan telah penuh dan tidak ada yang bisa bernapas.
Tim itu, yang sebelumnya tampak seperti sekumpulan orang dengan tujuan tunggal, kini terlihat seperti jam mekanik yang setiap rodanya bergerak ke arah yang berlainan. Setiap bagian berbunyi sendiri, namun tidak lagi saling menyambung.
Bidang strategi merasa bidang lapangan terlalu liar. Bidang lapangan merasa bidang strategi terlalu banyak berpikir. Koordinator relawan merasa bidang media tidak mengerti realitas di bawah. Bidang media merasa semua orang bicara terlalu banyak hal tanpa bentuk.
Dan pemilihan anggota baru seolah api kecil yang dilempar ke tumpukan jerami. Ada yang merasa orang itu tidak pantas. Ada yang merasa ia terlalu dekat dengan tokoh calon. Ada yang merasa ia membawa kepentingan tertentu. Ada yang tidak peduli namun justru ketidakpedulian itu membuat semuanya tampak lebih tegang.
Damar berada di tengah-tengah seperti kursi kosong yang entah mengapa dijadikan pusat ruangan semua orang mengelilinginya, semua orang berbicara di hadapannya, tetapi tidak ada yang benar-benar berbicara kepada dirinya.
Pertemuan itu berlangsung di ruangan sempit, dengan lampu neon yang berkedip-kedip seperti sedang memutuskan apakah ia ingin terus menyala atau menyerah. Meja kotak di tengah ruangan tampak seperti arena. Seseorang memulai dengan suara pelan:
"Kita tidak bisa bekerja seperti ini."
Lalu seseorang lain menyahut cepat, hampir memotong udara:
"Yang tidak bisa bekerja itu bukan kita. Tapi kalian yang tidak mendengar."
Damar melihat tangan-tangan yang mengepal, mata yang mengeras, bibir yang mulai menahan kata-kata yang jauh lebih tajam dari yang terucap. Konflik itu bukan tentang koordinasi. Tidak juga tentang strategi. Bahkan bukan tentang anggota baru. Konflik itu tentang ketakutan. Ketakutan bahwa kegagalan tidak berasal dari luar, tetapi dari dalam tubuh itu sendiri. Dan ketakutan itu adalah jenis ketakutan yang tidak memiliki bentuk, sehingga tidak pernah dapat diusir. Salah satu anggota, wajahnya merah karena menahan amarah yang sudah terlalu lama disimpan, akhirnya meledak:
"Kalian tidak pernah mau memahami realitas lapangan. Kalian hanya ingin dunia berjalan sesuai kertas-kertas yang kalian tulis di ruangan dingin ini!"
Seseorang dari bidang lain berdiri, kursinya bergeser dengan suara yang sedikit terlalu keras:
"Dan kalian tidak pernah mau mengerti bahwa tanpa struktur, semua yang kalian lakukan itu tidak lebih dari gerombolan orang berjalan tanpa arah!"
Suara saling tumpang tindih. Kalimat tidak selesai. Kalimat lain memotongnya. Lalu satu lagi. Lalu satu lagi. Sampai tidak ada yang sebenarnya sedang berbicara.
Mereka hanya mengeluarkan isi kepala masing-masing bukan untuk didengar, tetapi untuk meyakinkan diri sendiri bahwa mereka masih punya kendali.
Damar merasakan sesuatu yang aneh. Ia tidak gelisah. Ia tidak takut. Ia hanya merasa lelah, tetapi lelah yang sunyi lelah yang tidak berasal dari tubuh, melainkan dari pengertian yang terlalu dalam.

Di ruangan itu, semua orang merasa sedang memperjuangkan “yang benar”.
Dan itu justru menjadikannya mustahil diselesaikan. Damar akhirnya berdiri. Ia tidak meninggikan suara. Ia tidak menenangkan dengan kata-kata motivasi. Ia hanya berkata:
"Kalau kalian terus bicara untuk menang, tidak ada yang akan selesai."
Hening turun hening yang tidak nyaman, seperti napas yang tertahan di tengah-tengah kalimat. Semua orang menatapnya. Bukan karena ia berkata sesuatu yang bijak. Namun karena mereka tidak punya tenaga lagi untuk membantah. Damar lalu menggeser kursinya, mendekat ke meja kotak itu. Tangannya menyentuh permukaan meja yang dingin, basah oleh sisa keringat dan debu yang tak sempat dibersihkan. Ia melihat ke empat sudut meja itu seolah meja itu adalah sesuatu yang hidup.
"Duduk dulu," katanya.
Mereka duduk. Bukan karena setuju tetapi karena kalah oleh kelelahan. Tidak ada kesepakatan tertulis. Tidak ada keputusan besar. Tidak ada kata maaf. Hanya kalimat yang samar:
"Kita lanjut dulu sebagaimana yang sudah berjalan."
Dan itu cukup untuk saat itu. Namun mereka semua tahu: Tidak ada yang benar-benar selesai. Dalam politik, penyelesaian bukan berarti masalah hilang. Selesai adalah ketika semua orang terlalu letih untuk melanjutkan pertengkaran. Pertemuan usai. Namun tidak ada yang pulang.
Mereka hanya berpencar ke sudut-sudut ruangan, seolah butuh ruang untuk kembali menjadi manusia. Damar keluar terakhir. Di luar, udara malam tidak dingin. Namun Damar merasakan dingin itu di tulang. Ia menatap langit yang gelap tanpa bintang. Dan ia sadar Konflik tim kampanye bukan tentang ketidaksepahaman tujuan. Semua orang ingin menang itu jelas. Yang dipertaruhkan di meja kotak itu adalah identitas. Siapa yang memegang kendali. Siapa yang menentukan arah. Siapa yang kelak akan diingat dan siapa yang hanya menjadi catatan kaki.
Damar mengerti Ia sedang berada di tengah sesuatu yang tidak pernah bisa ia menangkan dan tidak pernah bisa ia tinggalkan. Seperti rumah tanpa pintu itu. Semua orang ada di dalam. Dan tidak ada yang tahu bagaimana cara keluar.

Seperti Kawanan Semut Merah
Damar duduk di pinggir jalan raya yang tak pernah benar–benar gelap. Lampu–lampu kendaraan lewat seperti arus kesadaran yang tidak pernah berhenti, mengalir, menghantam, lalu lenyap. Suara mesin proyek perbaikan jalan meraung seperti makhluk besi yang baru bangun dari tidur panjang; mereka hanya bekerja ketika malam datang, seolah siang adalah waktu untuk berpura–pura segala sesuatu baik–baik saja. Debu berterbangan, seperti memori yang tidak ingin diam, menempel pada kulit, pada rambut, pada pikiran.
Di pangkuannya, ponsel bergetar lagi. Dan lagi. Dan lagi. Notifikasi pesan muncul seperti ketukan palu yang mengadili dirinya tanpa sidang. Nama–nama yang sudah ia kenal terlalu baik membentuk seperti parade yang lucu dan tragis; orang–orang yang sama, dengan permintaan yang berbeda, namun semuanya berasal dari lubang yang serupa kekosongan dan ketakutan.
“Ada spanduk yang belum dipasang, padahal besok jadwal kunjungan!” tulis seseorang.
“Kenapa bidang komunikasi tidak koordinasi? Mereka lambat sekali!” tulis orang lain.
“Kita harus undang tokoh ini supaya suara bertambah!” kata yang lain lagi.
Dan yang paling aneh, datang dari seseorang yang beberapa hari lalu bahkan tidak terlihat bekerja:
“Kalau nanti sudah menang… tolong ingat saya dulu ya. Saya sudah berjuang keras.”
Damar membaca pesan itu dengan tatapan kosong. Ia tidak tahu bagian mana yang disebut perjuangan dari orang itu. Mungkin sekadar hadir sekali, mungkin sekadar tersenyum ketika orang lain melihat. Mungkin memang dalam politik, “kehadiran” memiliki definisi khusus yang Damar belum tentu ingin pahami.
Suara kendaraan semakin keras, seolah ingin menusuk telinga hingga pikiran jadi bising. Tapi bukan suara itu yang paling mengganggu dirinya. Yang lebih bising adalah suara–suara dalam kepalanya, seperti lorong panjang yang penuh ruangan tak berisi tapi terus memantulkan suara langkahnya sendiri.
Ia merasakan dada seperti ditarik dua arah: antara kepercayaannya pada nilai kerja kolektif dan kenyataan bahwa setiap orang membawa kepentingan masing–masing yang ingin diselamatkan, bahkan jika kapal itu tenggelam.
Ia mulai menyadari satu hal yang tidak pernah diajarkan dengan kata–kata, tetapi menamparnya berkali–kali dalam pengalaman: masyarakat tidak sedang berada dalam satu bentuk sosial yang utuh; tidak pula berlapis dengan rapi seperti diagram dalam buku. Mereka terkotak–kotakkan. Bukan hanya oleh kelas sosial, bukan hanya oleh pendidikan atau akses, tetapi oleh ilusi bahwa setiap kelompok berhak atas porsi lebih besar dari yang lain.
Dan lingkar politik lingkar tempat ia kini berdiri dengan setengah sadar bukan memperbaiki keadaan itu, melainkan mempertebal batas–batasnya.
Ada orang yang banyak menuntut, selalu meminta, selalu merasa telah berjuang paling keras. Mereka mengingatkan orang lain tentang “kontribusi” yang kadang hanya berupa suara keras. Mereka memiliki cara memutar rasa bersalah menjadi senjata.
Ada orang yang banyak cari muka selalu berada di depan, tersenyum di momen paling terang, dan menghilang ketika pekerjaan menjadi gelap dan melelahkan. Mereka seperti kupu–kupu yang hanya hinggap pada bunga paling wangi, tidak pernah pada tanah berdebu.
Ada orang yang tidak banyak bicara, tetapi tindakannya memotong, menguasai, mengambil ruang, menegaskan posisi. Mereka tidak berteriak, tetapi langkahnya berat, seperti pintu besi yang menutup perlahan namun pasti.
Dan yang paling aneh adalah mereka yang tidak tampak, tidak mengeluh, tidak meminta, tetapi seperti bayangan, hadir di setiap sudut dan menyimak segala hal. Orang–orang ini tidak merayakan kemenangan kecil dan tidak mengeluh ketika kalah. Mereka hanya mencatat. Dan Damar tahu, orang–orang seperti ini adalah yang paling berbahaya. Karena mereka bergerak bukan dari emosi, tapi dari perhitungan yang tidak diucapkan.
Semua itu berputar dalam kepala Damar sementara proyek jalan di depannya menggali lagi aspal lama. Seperti kenyataan yang selalu dikupas, ditambal, namun jarang diperbaiki sepenuhnya. Aspal lama tidak pernah dibuang; ia hanya tertutup, tapi tetap ada di bawah membusuk dalam gelap.
Ia merasakan sesuatu aneh: rasa sedih yang tidak jelas bentuknya. Bukan sedih karena lelah, bukan karena marah pada orang lain, tetapi karena ia sadar bahwa dirinya pun kini menjadi bagian dari sistem itu. Ia tidak tahu sejak kapan. Mungkin sejak pertama kali ia berkata “baik, saya bantu.” Mungkin sejak ia mulai tinggal lebih lama di lapangan daripada di rumah. Mungkin sejak wajah–wajah masyarakat itu menempati pikiran malamnya, tidak sebagai manusia individu, melainkan sebagai angka yang harus diraih.
Ponsel bergetar lagi. Seseorang meminta dana tambahan untuk logistik yang sebenarnya sudah disepakati. Seseorang meminta agar kunjungan dialihkan ke daerah lain yang kebetulan keluarganya banyak di sana. Seseorang meminta agar spanduk menampilkan dirinya sedikit lebih besar. Seseorang ingin fotonya dimasukkan ke poster resmi, padahal bukan bagian inti tim.
Damar menutup mata. Ia tahu ia hanya satu tubuh kecil dalam arus besar. Seperti orang yang berdiri di tengah sungai, mencoba tidak hanyut. Dan sungai itu bukan melaju, melainkan menggelinding seperti binatang tak berwajah yang tidak pernah tidur. Ia menarik napas panjang. Dan di tengah semua hiruk pikuk itu, ia ingat satu hal dari seseorang yang dulu ditemuinya, yang pernah mengatakan:
“Ketika kamu sudah berada di dalam arus, kamu pikir kamu sedang berenang. Padahal kamu hanya hanyut. Dan orang yang hanyut selalu merasa dia sedang bergerak dengan pilihannya sendiri.”
Kendaraan lewat.
Asap menghembus.
Pekerjaan jalan terus berdentang.
Dan Damar masih duduk, sambil memegang ponselnya yang terus bergetar. Seolah dunia tidak sedang mengalir, tetapi justru berhenti menunggu ia memutuskan apakah ia akan terus di sini atau akhirnya tenggelam tanpa tanda.