Ruang Kosong
Damar berdiri di sebuah halaman luas yang sebenarnya tidak luas hanya terasa seperti itu karena orang–orang di dalamnya bergerak perlahan, seperti boneka yang terlambat disadarkan bahwa mereka harus tampil di panggung. Panggung itu bukan panggung, melainkan serambi rumah warga yang disulap menjadi tempat pertemuan. Kursi plastik berjajar tidak teratur, seperti struktur pikiran yang belum sempat dirapikan. Udara sore menggantung berat; suara kipas angin menggeliat lambat, seolah kelelahan bekerja untuk manusia.
Di sana, Damar diperkenalkan kepada orang–orang baru. Nama–nama diucapkan seperti mantra yang putus di ujung lidah, tidak ada yang benar–benar masuk ke dalam benak. Semua tangan yang menyambutnya terasa sama: hangat, sedikit berkeringat, dengan tekanan yang penuh keraguan. Mereka tersenyum. Damar pun tersenyum. Senyuman itu seperti formalitas pada pintu yang sudah lama macet tetap dibuka, meski harus dipaksa.
“Salam kenal,” kata mereka.
“Salam kenal,” jawab Damar, berkali–kali, seperti gagak yang diajari mengulang satu kata hingga lupa arti kata itu sendiri.
Ada yang menepuk bahunya dengan akrab, meski mereka belum pernah bertemu. Ada yang memandangnya lama sebelum akhirnya bertanya pertanyaan yang sama dengan semua orang lain:
“Rumahnya di mana?” “Kerja apa?” “Dari kapan ikut tim?”
Pertanyaan–pertanyaan itu seperti batu kecil yang dilempar ke permukaan air; riaknya sebentar, lalu menghilang tanpa jejak. Dan Damar menjawab semuanya dengan cara paling ringan, paling netral, paling aman. Ia tidak tahu apakah ia sedang memperkenalkan dirinya atau sedang menghilangkan dirinya sendiri agar cocok dengan ruangan itu.
Ia merasa dirinya berdiri di atas titik yang sangat kecil. Titik yang bahkan tidak bisa disebut tanah. Titik yang tidak menahan siapa pun. Ia merasa jika ia bergerak sedikit saja ke kiri atau ke kanan ia bisa jatuh ke sesuatu yang tidak jelas bentuknya. Jurang kesadaran? Kekosongan sosial? Atau hanya ketakutan menjadi terlihat terlalu asing?
Di sekitarnya, percakapan orang–orang terdengar seperti gumaman panjang yang tidak memiliki jeda. Mereka berbicara tentang harga beras yang naik. Tentang anak yang pergi merantau. Tentang banjir yang datang tiap tahun tanpa undangan. Tentang janji yang pernah diberikan, lalu melayang seperti asap dapur pagi. Semua itu saling bertumpukan tanpa arah. Seperti tumpukan pakaian yang dilempar ke kursi ada bentuk, tapi tidak pernah jelas. Damar mendengarkan, tetapi tidak benar–benar mendengarkan. Ia hadir, tetapi tidak sepenuhnya ada.
Dalam kepalanya, ia memikirkan hal yang aneh: bagaimana seseorang bisa berada di tengah banyak orang, namun merasa seperti satu–satunya yang tidak memiliki pintu untuk kembali? Semua orang tampak saling mengenal; mungkin bukan mengenal secara dekat, tetapi mengenal dengan cara dunia kecil mengenal dirinya sendiri. Mereka memiliki cerita yang saling bersilangan, sejarah yang saling mengikat, luka yang dipahami bersama. Damar adalah sesuatu yang baru. Sesuatu yang belum mendapatkan bahasa untuk diceritakan.
Dan tiba–tiba, seseorang menepuk punggungnya.
“Ayo, ikut dulu ke belakang. Kita makan,” kata seorang lelaki dengan suara parau.
Damar mengangguk.
Ia mengikuti langkah orang itu. Kakinya bergerak seperti mengikuti arus sungai yang tidak dia pilih. Ia berjalan melewati pintu, melewati anak kecil yang berlari tanpa tujuan, melewati ibu yang sedang mengupas bawang dengan wajah begitu datar seolah seluruh kehidupan hanyalah pengulangan dari pengulangan lain.
Damar duduk di lantai. Piring plastik diberikan. Nasi panas. Lauk sederhana. Aroma yang seharusnya mengundang kenyamanan malah terasa asing. Ia tahu ia harus makan. Ia tahu ia harus berbicara. Ia tahu ia harus menunjukkan keberadaan. Tapi ia hanya diam. Diam yang tidak terlihat dramatis hanya diam yang kecil, seperti titik itu tadi. Titik di mana ia berdiri. Titik yang membuatnya sadar, bahwa ia tidak sedang memasuki lingkungan baru. Ia justru sedang menyadari bahwa dirinya tidak pernah punya tempat yang tetap.
Orang–orang lain tertawa di sekitarnya. Perbincangan berjalan seperti roda yang sudah lama berputar. Tidak ada yang salah. Tidak ada yang benar. Hanya terus berjalan.
Damar memegang sendoknya. Ia tersenyum pelan, meski tidak ada yang melihat. Dalam kesepian yang bergerak bersama keramaian itu, ia menyadari sesuatu yang tidak ia ucapkan:
Bahwa kadang, mengikuti arus bukan karena pasrah. Tapi karena tidak ada tepi untuk berpijak.
Selalu Ada Rumah Untuk Pulang
Damar tidak sedang menunggu apa pun ketika kesepian itu datang. Ia hanya duduk di sebuah kursi plastik, entah di mana, seperti biasanya ia tidak terlalu sadar ruang. Namun kesepian itu datang dengan cara yang sangat khusus tidak mengetuk pintu, tidak memberi tanda, hanya menempel begitu saja di tengkuknya seperti udara lembab di pagi hari.
Dan dari situlah ingatan itu muncul bukan seperti kenangan yang dipanggil, tetapi seperti seseorang yang kembali untuk menagih sesuatu yang belum lunas.
Ia kembali pada masa-masa ketika ia bersama kekasihnya. Masa itu tidak terang, tidak pula suram hanya penuh dengan cahaya-cahaya kecil yang tidak pernah ia sadari penting.
Ia teringat bagaimana mereka sering menonton film bersama. Film apa? Ia tidak pernah ingat. Karena setiap kali film dimulai, Damar akan tertidur. Bukan tertidur yang keras atau lelap, tetapi tertidur seperti seseorang yang akhirnya menemukan tempat untuk meletakkan seluruh kelelahan yang selama ini berputar di dalam dada. Ia tertidur dengan kepala yang perlahan jatuh, bahunya yang miring, napas yang tenang, dan kekasihnya hanya akan menatapnya, tersenyum, lalu membiarkan tanpa membangunkan, tanpa menggerutu.
Ia tidak pernah menyadari betapa lembutnya hal itu. Tidak pernah menyadari bahwa seseorang mau duduk selama dua jam hanya untuk menjadi tempat bagi kepalanya yang akhirnya ingin menyerah sejenak.
Ia baru menyadarinya sekarang, jauh dari sana. Lalu ia mengingat malam-malam ketika mereka berkeliling kota. Kota itu bukan sesuatu yang istimewa: lampu jalan kuning pucat, trotoar yang sedikit retak, suara knalpot yang tidak pernah berhenti. Namun ketika bersama kekasihnya, kota itu berubah menjadi ruang yang tak berbatas seolah seluruh dunia sedang menonton mereka, tetapi membiarkan mereka sendiri.
Mereka berkeliling tanpa tujuan.
“Habis ini kemana?” tanya kekasihnya.
“Gak tahu,” jawab Damar.
Dan mereka benar-benar tidak tahu. Tidak ada daftar. Tidak ada rencana. Tidak ada jam yang harus dikejar. Mereka hanya bergerak karena merasa bahwa diam akan membuat mereka tenggelam dalam sesuatu yang tidak ingin mereka jelaskan.
Kadang mereka berhenti di jembatan. Angin malam menyentuh wajah seperti tangan yang tidak mereka kenal. Mereka berbicara tentang hal-hal aneh: tentang mimpi yang tidak masuk akal, tentang ketakutan yang tidak punya bentuk, tentang masa depan yang terlihat seperti bayangan samar di dasar kolam.
Kadang mereka hanya duduk sambil memandang jalan. Mobil lewat. Motor lewat. Waktu lewat.
Dan dalam semua itu, ada sesuatu yang Damar tidak sadari: kekasihnya selalu menunggu. Menunggu kalimat yang tidak pernah ia ucapkan. Menunggu sentuhan yang tidak pernah ia berikan sepenuhnya. Menunggu kehadiran yang tidak pernah ia turunkan sampai menyentuh tanah.
Damar menyadari bahwa ia sering berada di tempat itu di sisi kekasihnya tanpa benar-benar berada.
Seperti kursi kosong yang bentuknya tetap ada walaupun seseorang sudah berdiri.
Dan sekarang, ketika ia berada jauh, duduk di tengah orang-orang yang tidak ia kenal, ia merasakan kekosongan itu kembali. Tapi kali ini, ia tahu sumbernya.
Ia sadar bahwa waktu yang mereka habiskan bukan tentang film, atau kota, atau malam hari tetapi tentang keberadaan yang ditambatkan. Tentang seseorang yang berkata, lewat cara paling sunyi:
"Aku di sini. Jangan pergi terlalu jauh."
Namun Damar telah pergi. Ke tempat yang bahkan ia sendiri tidak tahu di mana. Dan kini ketika kesepian datang, ia mencarinya bukan kekasihnya, tetapi dirinya yang pernah berada dalam genggaman hangat itu. Dirinya yang dulu bisa tertidur tanpa takut kehilangan apa pun. Dirinya yang bisa berjalan tanpa berpikir arah. Ia mencari pulang.
Namun kota tempat ia pulang telah berubah menjadi kota lain, yang bercahaya terlalu keras, dengan wajah-wajah yang menuntut, suara-suara yang mendesak, dan waktu yang tidak pernah memberi ruang untuk berhenti. Ia ingin menutup mata. Ia ingin kembali tertidur di bahu itu. Ia ingin mendengar suara kekasihnya berkata pelan:
“Tertidur lagi ya…”
Tanpa amarah. Tanpa protes. Hanya sebuah penerimaan yang tak lagi ia miliki. Tapi kini, ketika ia mengingat, kenangan itu tidak lagi lembut. Ia berubah menjadi sesuatu yang perih. Seperti luka yang terlambat disadari keberadaannya, baru terasa ketika disentuh oleh udara.
Damar, di kursi plastik itu, merasa sesuatu di dadanya bergerak perlahan. Seperti pintu kecil yang terbuka, hanya untuk menunjukkan bahwa rumah yang dulu ada di baliknya telah kosong.
Dan ia tahu, Kadang seseorang baru mengerti arti rumah, ketika ia menyadari bahwa ia tidak lagi punya tempat untuk kembali.