Ada Yang Lebih Besar
Malam itu tidak memiliki bentuk. Tidak ada batas yang memisahkan antara gelap dan terang. Langit hanya seperti selembar kain hitam yang digantung terlalu rendah. Udara lembab. Suara anjing menggonggong jauh terlalu jauh seakan hanya gema dari tempat yang tidak benar-benar ada. Jalanan sepi, tetapi kesunyian itu bukan ketenangan; ia seperti sesuatu yang menahan napas, bersiap menelan apa pun yang bergerak terlalu cepat.
Damar berjalan sendirian. Ia baru saja menyelesaikan rapat terakhir rapat yang sebenarnya tidak memberikan apa pun selain pengulangan dari pengulangan, seperti sebuah roda yang diputar hanya untuk memastikan roda itu masih berbentuk. Orang-orang pamit dengan senyum lisut yang dipaksakan, mengucap “besok kita lihat hasilnya” dengan suara yang berusaha keras tidak bergetar.
Damar tidak pulang bersama mereka. Ia berjalan ke lapangan kecil di belakang balai warga, tempat ia dulu pernah tertawa bersama anak-anak, tempat ia pernah berjanji dalam dirinya sendiri bahwa politik bukan untuk ambisi, melainkan untuk manusia.
Lapangan itu kosong sekarang. Dan di tengah lapangan itu, ia berhenti. Seperti tubuh yang tiba-tiba kehilangan perintah.
Sekian bulan perjalanan, sekian langkah yang ia tempuh dari kota satu ke kota lain, sekian kalimat yang ia ucapkan dengan hati yang kadang penuh dan kadang kosong semua itu tiba-tiba menjadi seperti angka-angka di papan tulis yang tersapu hujan. Ia tidak takut kalah. Kekalahan telah lama ia siapkan dalam dirinya. Kekalahan adalah sesuatu yang bisa diterima. Ia tahu dunia tidak bergerak berdasarkan keadilan. Yang membuatnya jatuh bukan karena ia mungkin gagal. Yang membuatnya jatuh adalah seberapa jauh ia telah berjalan, seberapa banyak dirinya ia tinggalkan di sepanjang jalan itu. Semua itu kini berdiri di hadapannya seperti tubuh tak bernyawa.
Damar mengangkat wajahnya. Ia menatap langit, seolah Tuhan berada di sana. Ia tidak sedang meminta kemenangan. Ia tidak sedang meminta imbalan. Ia hanya menyerahkan sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak tahu namanya.
“Mungkin ini semua tidak pernah milikku,” bisiknya pelan, tanpa suara. Dan tiba-tiba sesuatu yang telah lama terkunci mulai runtuh. Air mata itu tidak jatuh seperti hujan yang deras. Ia jatuh satu per satu, perlahan, seperti batu kecil yang dilepaskan dari genggaman. Tidak ada isakan. Tidak ada keruntuhan yang dramatis. Hanya tubuh yang perlahan kehilangan daya untuk mempertahankan bentuk.
Damar jatuh berlutut. Tangan menahan tanah yang tidak benar-benar kuat. Tanah itu lembut dan dingin, seperti memeluk luka yang sudah terlalu lama ia simpan. Ia memejamkan mata.
“Kalau semua ini tidak benar,” katanya dalam hati yang tidak lagi bernaung, “setidaknya aku sudah mencoba.” Dan mencoba itu ternyata menyakitkan. Karena mencoba berarti membawa seluruh diri untuk menyerahkannya pada sesuatu yang tidak pernah menjanjikan balasan.
Udara bergerak perlahan, menyapu rambutnya. Tidak ada suara penyemangat. Tidak ada tangan yang mengangkatnya. Tidak ada kata-kata suci. Tidak ada visi kemenangan. Yang ada hanya dirinya dalam bentuk paling rapuh. Namun, justru dalam keruntuhan itu, ada kejujuran yang tidak pernah ia miliki selama berbulan-bulan. Di situ, ia akhirnya melihat siapa dirinya: Seorang manusia yang lelah, yang telah menyerahkan segalanya bukan karena ingin menang, tetapi karena ingin menepati janji pada dirinya sendiri bahwa ia pernah mempercayai sesuatu. Ia menangis lama. Bukan tangis sesal. Bukan tangis kecewa. Tetapi tangis dari seseorang yang telah berjalan begitu jauh hingga tidak lagi bisa kembali untuk menjadi orang yang sama seperti sebelum ia mulai melangkah.
Ketika akhirnya ia menarik napas panjang, dingin malam masuk ke dalam tubuhnya, mengisi ruang kosong yang sebelumnya penuh dengan ketegangan. Ia berdiri perlahan. Tidak menjadi lebih kuat. Tidak menjadi lebih yakin. Hanya berdiri dan itu sudah cukup.
Di tengah lapangan yang sunyi itu, ia akhirnya tahu Bahwa ada perjalanan-perjalanan yang tidak diukur dari siapa yang menang atau kalah, tetapi dari siapa yang berani tetap berjalan, meski tahu betul ia mungkin tidak pernah sampai.