Ruang Tunggu Tanpa Jendela
Tidak ada keputusan yang benar-benar diambil dalam satu waktu tertentu. Bahkan ketika seseorang mengatakan “Aku memutuskan hari ini,” sebenarnya keputusan itu telah tumbuh perlahan, seperti jamur yang mengembang dalam gelap. Begitu pula dengan keputusan Damar untuk pergi. Ia tidak pernah benar-benar mengatakan ia akan berhenti. Namun sejak hari itu hari ketika ia menyadari ketiadaan pintu segala sesuatu di sekitarnya mulai terdengar berbeda, meskipun orang-orang tetap mengatakan hal yang sama. Misalnya, rapat-rapat pagi.
Sebelumnya rapat-rapat itu dipenuhi semangat yang sedikit gugup, seperti para pemain sandiwara yang mencoba memainkan peran yang mereka sendiri belum terlalu hafal. Namun sekarang rapat-rapat itu berlangsung dengan kelancaran yang justru terasa asing. Semua orang tahu apa yang harus dikatakan. Semua orang tahu kapan harus mengangguk. Banyak kalimat yang dimulai dan diakhiri tanpa makna di tengahnya, tetapi tidak seorang pun tampak keberatan.
“<i>Agenda besok adalah kunjungan ke RW 08, lalu evaluasi program pelatihan kerja,<\i>” kata salah satu anggota staf.
“Ya, baik,” jawab yang lain. “Perlu dikonsolidasikan dengan kecamatan. Jangan sampai ada overlapping.”
Damar mendengar kata-kata itu seperti mendengarkan seseorang mengucapkan mantra dalam bahasa yang ia kenal namun tidak ia pahami lagi. Kata-kata yang dulu memiliki makna kini berubah menjadi bentuk suara belaka. Setiap huruf terucap dengan rapi, tetapi isinya kosong.
Dalam keheningan di antara kalimat, Damar menyadari sesuatu:
Yang berubah bukan kata-katanya. Yang berubah adalah siapa yang sedang mendengarkan.
Di ruang kerjanya, Damar semakin jarang menuliskan sesuatu. Kertas-kertas kosong tersusun rapi di sudut meja, seolah menunggu sesuatu yang tidak akan pernah dituliskan. Telepon berdering, pesan masuk, permintaan bertambah, namun Damar menjawab semuanya dengan kesopanan yang sempurna. Tidak ada yang salah dalam cara ia bekerja. Justru itu masalahnya.
Yang hilang adalah nuansa kegetaran halus yang membuat pekerjaan terasa bernilai. Ia mulai memperhatikan jam dinding. Jam itu berdetak dengan tenang, namun tidak pernah terasa seperti bergerak. Seolah-olah waktu telah berubah dari sesuatu yang mengalir menjadi sesuatu yang berat, sesuatu yang menekan. Mungkin inilah yang dimaksud orang-orang ketika mereka berkata bahwa sistem itu “mengatur segalanya”. Sistem itu bukan peraturan, bukan struktur. Sistem itu adalah ritme dan ketika ritme itu mulai berdenyut di dalam diri, seseorang berhenti bertanya untuk apa ia bergerak.
Suatu sore, calon anggota legislatif yang kini telah menjadi anggota dewan itu memanggil Damar. Percakapan itu terjadi di ruangan yang lebih besar daripada ruang lainnya, tetapi tidak lebih terang. Ruangan itu dilapisi rak buku, namun buku-buku itu tampak seperti barang pajangan yang tidak pernah dibaca.
Ia berkata dengan nada yang dulu begitu akrab bagi Damar:
“Kita harus mulai memperluas pengaruh. Ada beberapa pihak yang perlu kita jalin hubungan. Bukan karena kita ingin mengubah komitmen kita, tetapi karena begitulah cara kerja di sini.”
Damar mengangguk. Ia menyadari bahwa ia telah terlalu sering mengangguk.
“Justru kalau kita tidak mengikuti alurnya, kita akan dipinggirkan. Dan kalau kita dipinggirkan, kita tidak bisa membantu siapa-siapa. Kau paham, kan?”
Kau paham, kan?
Kalimat itu seharusnya berarti kesepahaman, tetapi kini menggema seperti tuduhan halus. Seolah-olah jika Damar tidak paham, maka kesalahannya bukan pada sistem melainkan pada dirinya sendiri. Dan anehnya, Damar paham. Ia memahami dengan sangat baik, hingga pemahaman itu terasa seperti jerat. Untuk membantu orang, seseorang harus memasuki lingkaran kekuasaan. Namun untuk berada dalam lingkaran kekuasaan, seseorang harus menyerahkan sebagian dari dirinya. Semakin lama seseorang tinggal, semakin tidak jelas bagian mana dari dirinya yang tersisa.
Itu bukan pengkhianatan. Tidak, jauh lebih halus dari itu. Itu pengikisan.
Seperti cat dinding yang tergerus perlahan oleh udara. Seperti bau tubuh yang hilang dalam bau ruangan.
Pada malam hari, ketika gedung kantor sudah gelap, Damar duduk di kursinya. Lampu meja menyinari permukaan meja yang kosong. Tidak ada dokumen. Tidak ada rencana. Tidak ada daftar tugas. Hanya dirinya dan ruang yang hening. Ia mulai bertanya:
Apakah dulu benar-benar ada pintu?
Atau apakah ide tentang pintu itu hanyalah sesuatu yang ia ciptakan untuk menghibur dirinya? Ia mencoba mengingat malam itu malam ketika ia mengangguk. Ia mencoba mengingat keyakinan yang ia rasakan waktu itu. Ia mencoba mengingat mengapa ia percaya. Namun yang datang bukan ingatan. Yang datang adalah bayangan dirinya berjalan ke dalam rumah itu dengan penuh kesadaran, bahkan dengan sukacita, karena ia yakin ada sesuatu yang akan diperbaikinya. Dan kini ia berada di dalam rumah itu. Rumah yang begitu besar, begitu ramai, begitu penuh kegiatan. Rumah tanpa pintu. Ia tidak tahu apakah ia ingin keluar. Namun ia tahu ia pernah ingin keluar. Dan ia tahu ia bisa lupa keinginan itu suatu saat nanti.
Ketakutan itu, ketakutan akan lupa, menempel pada dirinya seperti bayangan yang terlalu dekat. Maka ia tetap terjaga malam itu. Ia tidak mencari pintu. Ia hanya berusaha menjaga ingatan bahwa pintu itu pernah ada. Namun dalam kesunyian itu, untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang lebih halus daripada putus asa. Keraguan apakah pintu itu benar-benar nyata sejak awal. Dan keraguan itulah yang membuatnya gentar.