Cerita

Anak Anak di Lorong

Oleh: Damar • Tanggal Publikasi: 2026-10-18 • Dokumen #3

Tidak ada yang istimewa dari lorong itu. Lorong itu sama saja seperti ratusan lorong lain di kota: sempit, lembap, dan tak pernah benar-benar kering meskipun tidak ada hujan. Damar tidak pernah tahu dari mana air itu berasal mungkin dari pipa yang bocor, mungkin dari sungai hitam yang berjarak beberapa meter dari sana, mungkin dari sesuatu yang tidak memiliki bentuk tetapi terus merembes keluar, seperti ingatan yang tidak ingin dihadapi.
Ketika ia pertama kali datang untuk mendampingi kelas belajar bagi anak-anak yang tinggal di sana, ia disambut oleh suara gaduh: tawa, teriakan, bentakan, dan langkah kaki yang berlari tanpa tujuan. Tidak ada barisan rapi. Tidak ada meja. Tidak ada buku pelajaran yang layak disebut sebagai buku. Anak-anak itu duduk di lantai semen yang retaknya membentuk pola-pola yang tidak pernah selesai.
“Mas, tulis di sini, ya,” kata seorang ibu.
Ia menunjuk dinding yang sudah penuh coretan. Kapurnya kecil, patah dua kali. Damar menulis huruf-huruf besar.
A B C.

Huruf-huruf itu tampak kikuk, seolah-olah mereka sendiri tidak yakin mengapa mereka berada di sana. Anak-anak menirukannya. Ada yang menertawakan huruf mereka sendiri.
Ada yang menatap kosong. Ada yang menguap. Tidak ada motivasi yang jelas. Namun mereka tetap datang ke kelas itu keesokan harinya. Dan keesokan harinya lagi. Seolah-olah kedatangan itu sendiri adalah pelajaran.
Dari semua anak yang ada di lorong itu, ada satu yang selalu duduk sedikit lebih jauh dari yang lain seorang gadis dengan rambut yang selalu terikat asal-asalan dan mata yang tidak pernah benar-benar menatap langsung ke siapa pun. Namanya tidak pernah benar-benar diperkenalkan. Orang-orang memanggilnya Lara, meskipun itu mungkin bukan nama sebenarnya. Ia tidak mempermasalahkan nama. Ia tidak mempermasalahkan apa pun.
Namun Damar memperhatikannya.
Bukan karena ia menonjol justru karena ia tidak menonjol. Ia tidak ikut tertawa, tidak ikut berteriak, tidak ikut mengejek ketika yang lain menertawakan sesuatu. Ia hanya memperhatikan, tetapi bukan dengan rasa ingin tahu melainkan dengan semacam kesadaran murung yang tidak semestinya dimiliki oleh seseorang yang seusianya.
Ketika Damar menuliskan kata RUMAH di dinding, Lara bertanya tanpa menatap:
“Rumah itu tempat orang pulang, kan?”
Pertanyaan itu sederhana. Namun dalam lorong itu, pertanyaan sederhana bisa menjadi sesuatu yang berat.
“Ya,” jawab Damar.
Lara mengangguk perlahan, seperti seseorang yang sedang memeriksa kebenaran dari sesuatu yang pernah ia dengar, tetapi tidak pernah ia alami.
“Di sini tidak ada rumah,” katanya setelah jeda yang panjang.
“Tapi orang tetap tinggal.”
Kalimat itu tidak disampaikan dengan kesedihan. Tidak ada duka di dalamnya. Tidak ada permohonan untuk dikasihani. Kalimat itu hanya ada, seperti lorong itu sendiri. Dan sejak saat itu, Damar mendapati dirinya datang bukan hanya untuk mengajar. Ia datang untuk mengerti. Beberapa bulan berlalu.
Damar mulai menghafal suara-suara lorong itu: suara sendok yang jatuh ke lantai, suara kain basah yang diperas, suara televisi yang suaranya lebih besar daripada gambarnya, suara langkah kecil yang berlari tanpa arah.
Di sela-sela pendampingan belajar, ia membantu membetulkan atap seng, membawa air bersih, memperbaiki lampu. Tidak ada yang memintanya melakukan semua itu. Tidak ada yang berterima kasih. Namun ia melakukannya. Karena melakukan sesuatu tanpa tahu alasannya jauh lebih tulus daripada melakukan sesuatu untuk suatu tujuan besar.
Di salah satu sore yang tidak dapat Damar bedakan dari sore-sore lain, Lara menghampirinya. Kali ini ia menatap langsung.
“Mengapa mas datang ke sini?” katanya. “Tempat ini tidak punya apa-apa.”
Damar terdiam. Ia tahu ada banyak jawaban yang mungkin, Untuk membantu, Untuk berbagi ilmu, Untuk melakukan sesuatu yang berguna, Untuk merasa dirinya berarti. Namun semua jawaban itu tiba-tiba tampak seperti topeng yang terlalu jelas bentuknya.
“Aku tidak tahu,” jawab Damar akhirnya.
Lara mengangguk, seolah itu adalah satu-satunya jawaban yang masuk akal.
“Kalau tidak tahu,” katanya, “mungkin itu artinya benar.”
Kalimat itu aneh, sederhana, dan tidak berusaha menjelaskan apa pun membekas di Damar. Seolah-olah ia baru saja menemukan sesuatu yang penting, namun tidak tahu bagaimana menyatakannya. Dan dari percakapan yang nyaris tanpa emosi itulah kedekatan mereka bermula. Bukan karena kata-kata. Bukan karena sentuhan. Bukan karena momen dramatis. Tetapi karena keheningan yang saling dipahami.
Keheningan yang menghubungkan dua orang yang sama-sama tidak tahu apa yang sedang mereka cari, namun tetap datang setiap hari ke tempat yang tidak menjanjikan apa pun. Seperti seseorang yang terus mengetuk pintu yang ia tahu tidak akan pernah terbuka hanya karena ia ingin memastikan bahwa pintu itu masih ada. Dan Damar, di lorong itu, sebelum politik, sebelum gedung tinggi, sebelum ruangan tanpa pintu, pernah merasa pulang.