Siang Namun Tak Pernah Terang
Tidak ada peta resmi yang benar-benar menunjukkan lokasi wilayah itu. Secara administratif wilayah itu memiliki nama, batas kelurahan, nomor RW, daftar ketua RT, dan setiap tahun menjelang pemilu para pejabat datang membawa senyum dan janji. Namun secara nyata, wilayah itu lebih mirip sesuatu yang dibiarkan tumbuh seperti jamur di sisi tembok tua yang terlupakan.
Ketika Damar dan tim kampanye datang, matahari baru saja condong ke barat. Cahaya jingga menimpa bangunan-bangunan yang terbuat dari seng, triplek, dan papan bekas. Anak-anak berlarian tanpa alas kaki, tidak karena mereka tidak punya sandal, tetapi karena tanah itu sendiri tidak pernah mempersilakan sesuatu menetap terlalu lama.
Damar berjalan paling depan. Ia merasa langkahnya berat, seakan setiap jejak kakinya menambah sesuatu yang tidak ingin ia bawa pulang. Seseorang dari tim berkata dengan suara terlalu lantang:
“Kita perbanyak dokumentasi. Ambil gambar yang natural, tapi tunjukkan kedekatan.”
Kalimat itu terdengar seperti instruksi teknis dalam studio, bukan di tengah kehidupan yang benar-benar ada. Damar menoleh.
“Tidak usah difoto dulu,” katanya. Suaranya tenang. Tapi ada sesuatu yang tegas di dalamnya. Timnya terdiam. Kamera tetap di tangan, tapi lensa tidak terangkat.
Di sebuah gang yang lebih sempit daripada lorong tempat ia pernah mengajar dahulu, Damar bertemu seorang lelaki tua yang duduk di kursi plastik yang salah satu kakinya patah. Lelaki itu tidak berdiri menyambut. Tidak juga tersenyum. Ia hanya menatap, seperti seseorang yang sudah terlalu banyak melihat orang datang dan pergi dengan janji yang serupa.
“Selamat sore, Pak,” kata Damar.
Lelaki itu menggerakkan kepalanya sedikit. Entah anggukan atau sekadar refleks.
“Ada yang bisa kami bantu di sini?” lanjut Damar, pertanyaan yang ia sendiri tahu terlalu luas. Lelaki itu tertawa kecil. Tawa yang tidak memerlukan humor untuk muncul.
“Mas mau bantu apa? Air? Listrik? Mandi?”
Ia menunjuk sungai hitam di ujung gang.
“Itu ‘air’ kami. Listrik kadang ada, kadang tidak. Kalau mandi, ya di situ juga. Masa mas bisa ubah sungai?”
Damar terdiam. Ia tidak ingin menjawab dengan kalimat yang kelihatan mulia. Karena ia tahu semua kalimat itu sudah pernah diucapkan orang sebelum dirinya. Namun lelaki itu melanjutkan, dengan suara yang tiba-tiba melembut:
“Tapi kalau mas mau dengar, itu sudah lebih baik dari banyak orang.”
Damar duduk di papan kayu di sampingnya. Kampanye terhenti tanpa aba-aba.
“Maka saya dengar,” jawab Damar.
Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada dokumentasi. Tidak ada strategi. Hanya duduk. Dan hening. Seorang ibu muda mendekat sambil menggendong bayi yang tampak terlalu ringan untuk ukurannya.
“Mas dari partai, ya?” tanyanya.
“Bukan,” jawab Damar pelan. “Saya dari tim salah satu calon.”
“Oh.”
Ibu itu mengangguk seolah-olah kedua hal itu sebenarnya sama saja. Ia kemudian berkata:
“Kalau nanti terpilih… apa yang dia mau lakukan di sini?”
Damar tahu jawaban yang seharusnya ia berikan. Jawaban yang sudah disusun dalam bentuk bulletin dan poin-poin program. Namun kata-kata itu tidak terasa benar di sini.
Di tanah yang dirembesi air hitam dan suara anak kecil yang batuk seperti orang tua. Maka ia bertanya balik:
“Kalau boleh, ibu yang menjawab dulu. Ibu ingin apa?”
Ibu itu menggigit bibirnya. Seolah ia tidak pernah benar-benar diberi kesempatan untuk menginginkan sesuatu.
“Saya ingin…”, Suaranya pecah sedikit.
“Anak saya tidak perlu mandi di sungai itu.”
Hanya itu. Tidak meminta uang. Tidak meminta paket sembako. Tidak meminta rumah layak huni. Tidak meminta pendidikan tinggi. Tidak meminta keadilan sosial. Hanya:
“Anak saya tidak perlu mandi di sungai itu.”
Dan Damar merasa kalimat itu lebih politis daripada semua visi-misi yang pernah ia baca. Perlahan, warga lain berkumpul. Bukan untuk mendengar pidato. Bukan untuk menyambut. Melainkan karena mereka terbiasa keluar ketika ada sesuatu yang sedikit berbeda. Seseorang bertanya:
“Nanti kalau menang, apa nggak lupa sama kami?”
Damar menggenggam kedua tangannya.
“Kalau sampai lupa,” katanya, “setidaknya ada satu orang di dalam tim yang akan terus mengingatkan.”
“Siapa?”
Damar menjawab tanpa jeda:
“Saya.”
Lalu seorang lelaki yang lebih muda, tubuhnya keras karena kerja kasar yang tidak pernah diberi nama, berkata:
“Tapi kalau yang lain nggak mau mendengar?”
Dan di titik itu, pertanyaan itu tidak lagi tentang janji. Pertanyaan itu adalah tuduhan masa depan. Damar menarik napas.
“Kalau sampai saat itu tiba,” katanya pelan, “maka saya tidak boleh berada di sana lagi.”
Warga mengangguk. Tidak puas. Tidak percaya sepenuhnya. Tapi bukan tidak mengerti. Karena mereka tahu:
Keberanian bukan menjamin menang.
Keberanian hanya menjamin seseorang tidak berdusta pada dirinya sendiri.
Ketika rombongan bergerak kembali menuju mobil, salah satu anggota tim berbisik:
“Terlalu jujur. Bisa jadi masalah nanti.”
Damar tidak menoleh. Ia hanya berkata:
“Kalau kejujuran jadi masalah, mungkin masalah itu bukan pada kejujuran.”
Timnya diam. Tidak kerana mengerti. Tetapi karena tidak ada kata yang bisa membantah tanpa terdengar konyol.
Di jalan pulang, kota tampak terlalu terang. Lampu-lampu gedung tinggi berkilauan seolah sedang berpesta. Namun bagi Damar, terang itu tidak menghangatkan apa pun. Ia hanya menyinari satu kenyataan, Lorong yang tidak pernah kering itu tetap ada. Dan tidak ada kata-kata yang cukup untuk membawanya keluar dari kepungan cahaya kota.
Damar memejamkan mata. Suara ibu itu kembali.
“Saya ingin anak saya tidak mandi di sungai itu.”
Dan untuk pertama kalinya sejak kampanye dimulai, hati Damar terasa berat bukan karena kelelahan tetapi karena ia mulai takut ia benar-benar tidak bisa memenuhi janji yang ia berikan kepada dirinya sendiri.