Kota Yang Seperti Pernah Dihuni
Tidak ada yang menjelaskan dengan pasti mengapa Damar merasa matanya pernah melihat jalan itu sebelumnya. Sebuah lorong panjang yang seperti tak kunjung habis, dinding-dinding kusam yang diselimuti poster-poster pudar, wajah-wajah tak dikenali yang berjalan dengan langkah ragu seolah seluruh kota itu adalah bayangannya sendiri yang dibentangkan terlalu lebar. Bahkan aroma udara di sana campuran asap kendaraan, gorengan basi, dan debu panas dari aspal yang mengelupas terasa begitu familiar, seperti bau pakaian yang pernah ia pakai saat pulang dari suatu perjalanan yang sudah terlupakan.
Ia datang ke wilayah itu sebagai bagian dari rangkaian kunjungan kampanye. Namun tidak ada baliho besar, spanduk, rombongan kamera, atau pengeras suara yang menyampaikan janji manis kepada publik. Semua itu telah dibicarakan tim, tetapi Damar, dengan suatu alasan yang bahkan ia sulit jelaskan pada diri sendiri, memilih berjalan sendirian di wilayah ini terlebih dahulu, sebelum segala formalitas politik menenggelamkan keheningan yang rapuh di dalam dirinya.
Wilayah itu bukan hanya kumuh ia tampak seperti sebuah ruang yang berada di antara hidup dan mati. Bukan karena penghuninya tidak hidup, atau tempat itu tidak memiliki denyut rutinitas. Justru sebaliknya: kehidupan di sana berlangsung terlalu keras, terlalu padat, terlalu tanpa penghalang. Segalanya berlangsung sekaligus: suara anak mengisak, suara pedagang menawarkan ikan asin, suara radio yang memutar lagu dangdut lirih, suara panci yang dijatuhkan, suara seseorang tertawa karena terlalu lelah untuk menangis.
Damar berjalan perlahan, seolah setiap langkah adalah upaya kembali ke sesuatu yang nyaris terlupa. Ia merasa sedang pulang. Namun ke rumah yang tidak pernah ia tinggali.
Rumah-rumah di sana bukan rumah, melainkan konstruksi keadaan. Dinding triplek yang dipaku pada kayu yang sudah lapuk, atap seng yang melengkung karena panas, lantai tanah yang dipaksa disebut tempat tinggal. Jarak antar rumah sangat dekat, tetapi penghuninya terasa jauh satu sama lain, seolah masing-masing hidup dalam kepompong transparan yang membungkus diri mereka dari dunia luar namun tetap memperlihatkan dengan jelas penderitaan yang mereka tanggung.
Damar memperhatikan seorang anak kecil duduk di atas ember terbalik, menggambar sesuatu di tanah dengan ranting kayu. Garis-garis itu tampak seperti peta, atau diagram, atau mungkin sekadar goresan tanpa arti. Namun ekspresi anak itu begitu serius, seolah gambar itu akan menentukan nasib dunia. Damar teringat pada dirinya sendiri: suatu masa ketika ia menciptakan dunia dari apa saja yang tersedia, ketika realitas masih dapat dibentuk hanya dengan intensitas pikiran
Tetapi dunia itu tidak bertahan. Dunia itu hancur dengan sendirinya, seperti kapur tulis yang terhapus oleh hujan yang datang tanpa dipanggil. Ia berhenti. Anak itu mendongak.
“Sedang menggambar apa?” tanya Damar.
Anak itu menggeleng. “Ini jalannya,” katanya pelan. “Kalau aku bisa gambar terus... aku bisa pergi.”
Damar ingin bertanya pergi ke mana, namun kata-katanya tertahan. Ia paham. Dunia anak itu terlalu kecil, tetapi imajinasinya terlalu besar. Dan dunia nyata tidak pernah benar-benar memberi ruang bagi hal-hal semacam itu. Ia berjalan lagi.
Damar merasa wilayah itu pernah mengenalnya. Bukan hanya pernah dilihatnya, tetapi mengenalnya dengan cara yang halus dan mengejutkan, seolah ada sesuatu yang berusaha memanggilnya kembali ke dalam lipatan-lipatan memori yang sudah terbenam. Sebuah gerakan bayangan di sudut mata. Sebuah suara batuk tua yang mengingatkan pada seseorang yang dulu pernah ia rawat ketika mengajar anak-anak di pemukiman kumuh yang lain. Sebuah tatapan mata seorang ibu yang memeluk anaknya erat, seolah dunia luar adalah ancaman yang nyata dan terus menerus.
Semakin ia berjalan, semakin jelas: wilayah ini tidak hanya menyerupai tempat yang pernah ia tempati ia mewakili itu. Ia adalah bentuk berulang dari kesengsaraan yang tidak pernah selesai. Sebuah pola. Sebagaimana pola yang ia lihat pada dirinya sendiri. Apakah ini alasan ia merasa kembali?, Karena penderitaan, pada akhirnya, adalah rumah yang paling setia?
Langkahnya membawa ia ke sebuah gang yang lebih sempit. Di sana, suara-suara menjadi lebih dekat terlalu dekat. Udara lembab, hampir menempel pada kulit, dan bau got terbuka menyengat tetapi Damar tidak berniat mempercepat langkahnya. Di sana, ia merasa sesuatu sedang menunggu. Bukan seseorang. Melainkan pemahaman.
Di dinding gang itu terdapat sebuah coretan besar: KITA SEMUA DICIPTAKAN DARI KEHILANGAN.
Ia berhenti dan menatapnya lama. Lukisan mural itu tidak indah, tidak rapi, tinta catnya mengelupas dan pudar. Tetapi kalimatnya menancap kuat, seperti pengakuan atau dakwaan.
Ia berpikir tentang anggota legislatif yang ia bantu. Tentang janji dini hari. Tentang pengabdian yang berangkat dari keyakinan paling tulus bahwa manusia dapat menjaga integritasnya. Ia berpikir tentang bagaimana hari-hari mereka di Jakarta terasa seperti bangunan yang perlahan retak dari dalam, batu bata yang saling merosot, fondasi yang mengeluarkan serbuk pelan-pelan sebelum akhirnya bangunan itu akan runtuh tanpa suara. Ia berpikir tentang dirinya. Ia tidak ingin mengakui bahwa ia mulai kehilangan keyakinan itu. Tetapi tubuhnya sudah tahu lebih dulu sebelum pikirannya.
Di ujung gang, seorang wanita tua duduk di kursi plastik yang hampir patah. Ia menatap Damar seperti seseorang yang menunggu tamu yang sudah lama tidak pulang.
“Kau kembali,” katanya.
Damar terkejut. “Kita pernah bertemu?”
Wanita itu tersenyum tipis senyum yang menyimpan kesedihan yang tidak bisa lagi dihapus dengan waktu.
“Kita semua pernah bertemu,” jawabnya. “Di tempat seperti ini, wajah-wajah datang dan pergi. Tapi rasa yang tertinggal selalu sama. Kau pernah di sini atau kau akan kembali ke sini lagi.”
Damar tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia hanya berdiri.
“Orang sepertimu,” lanjut wanita itu, “datang dengan membawa harapan. Bukan untuk kami. Tapi untuk dirimu sendiri. Kau mencari sesuatu di sini. Sesuatu yang kau rasa pernah kau miliki.”
Damar merasakan sesuatu menegang di dalam dadanya.
“Apa yang aku cari?” tanyanya akhirnya.
Wanita itu menatap langit, meski yang terlihat hanya kain terpal yang menutup sebagian gang.
“Kau mencari alasan untuk tetap percaya.”
Diam. Diam yang panjang. Diam yang menyakitkan.
Damar tahu saat itu bahwa wilayah ini bukan sekadar tempat kampanye. Ini adalah cermin. Cermin yang menunjukkan dirinya sebelum ambisi, sebelum politik, sebelum kompromi yang tidak ia sadari telah ia setujui satu per satu.
Di sini, ia bukan Tim Pemenangan. Bukan Staf Strategi. Bukan Penyusun Program Legislasi. Ia kembali menjadi seseorang yang memungut serpihan-serpihan kecil kemanusiaan dan mencoba menyusunnya agar tampak seperti sesuatu yang layak diperjuangkan. Namun ia juga tahu: cermin itu tidak akan selalu memantulkan wajah yang sama.
Dan suatu hari, mungkin saja ia akan melewatinya tanpa mengenali dirinya sendiri lagi. Ia menyandarkan punggung pada tembok, menarik napas panjang, dan menutup mata. Untuk sesaat, ia merasa pulang. Namun ketika ia membuka mata, ia tahu Ia telah semakin jauh dari rumah yang sebenarnya. Dan ia belum tahu apakah ia masih bisa kembali.