Mobil Merah
Malam datang dengan cara yang sangat pelan, seperti seseorang yang memasuki rumah orang lain tanpa mengetuk pintu. Lampu kota menyala satu per satu, seolah terbata-bata dalam memahami bahwa langit telah kehilangan warnanya. Damar duduk di ruang kerja kecil, ruangan yang dipenuhi tumpukan dokumen, jurnal laporan kegiatan, dan kertas-kertas yang ditulis dengan catatan rapat yang berulang, seperti mantra yang diulang tanpa niat untuk dipahami. Semua terlihat sama, semua terasa seperti salinan dari salinan yang sudah memudar.
Di sudut ruangan, ada satu kursi yang berbeda dari yang lain. Kursi kayu tua yang hampir seperti bukan bagian dari tempat itu. Kursi yang, jika dilihat terlalu lama, memberi kesan bahwa ia telah berada di sana jauh sebelum Damar tiba. Di kursi itulah seseorang duduk laki-laki tua yang menjadi salah satu anggota senior dalam tim pemenangan. Damar tidak pernah tahu pasti namanya. Semua orang memanggilnya Pak Rendra, namun Damar tidak pernah tahu apakah itu nama aslinya, atau sekadar nama yang disematkan agar mudah disebut.
Rendra adalah sosok yang ganjil. Ia jarang berbicara, dan ketika berbicara, kata-katanya tidak pernah mengandung instruksi langsung, melainkan lebih seperti pernyataan singkat yang harus disusun ulang oleh pendengarnya menjadi makna yang dapat dipahami. Usianya mungkin sekitar tujuh puluh, atau lebih. Wajahnya tidak menunjukkan umur, hanya menunjukkan bekas perjalanan yang panjang.
Damar sering menghindar darinya. Bukan karena takut, tetapi karena ia belum siap mendengar sesuatu yang mengubah cara ia melihat dirinya sendiri. Namun malam itu, Damar merasa tidak ada tempat lain untuk pergi selain ruangan itu.
Rendra tidak memandangnya ketika Damar masuk. Seolah ia sudah tahu Damar akan datang.
Damar duduk tanpa diminta.
Hening berlangsung sangat lama, begitu lama hingga Damar merasa hening itu seperti sesuatu yang hidup merayap di dinding, merayap ke kulitnya, merayap hingga ke dadanya.
Akhirnya, Rendra berbicara.
“Kau terlihat seperti orang yang tersesat,” katanya.
Damar menunduk. “Saya hanya… lelah.”, Lelah adalah kata lain dari tidak siap menerima kenyataan.
Damar tidak menjawab. Ia tahu kalimat itu adalah pintu awal percakapan ini, bukan jawaban yang harus ditepis. Rendra menatap langit-langit seperti sedang melihat peta samar di sana.
“Kau mulai ragu,” lanjutnya. “Tentang apa yang kau lakukan. Tentang apa yang kita lakukan. Tentang tujuan dari semua ini.”
Damar menahan napas sebentar. “Saya merasa apa yang kita lakukan mulai menjauh dari komitmen awal. Seolah ada sesuatu yang bergerak pelan menggeser arah, membelokkan jalannya. Dan saya tidak tahu kapan pergeseran itu mulai terjadi.”
Rendra tersenyum kecil, senyum yang tampak seperti kelelahan yang sudah berdamai dengan dirinya.
“Itu bukan sesuatu yang bergerak pelan,” katanya. “Itu kau yang baru mulai bisa melihat.”
Damar terdiam. Rendra mencondongkan tubuh sedikit. Suaranya rendah, tetapi sangat jelas.
“Politik,” katanya pelan, “adalah perjalanan panjang. Dalam perjalanan itu, kau harus belajar memperhatikan mobil merah.”
Damar menatapnya, bingung. Rendra tidak memberikan waktu untuk bertanya.
“Bayangkan kau sedang melakukan perjalanan panjang dengan bus,” lanjutnya. “Di sepanjang jalan, kau melihat berbagai macam kendaraan. Tetapi di tengah semua itu, aku ingin kau memperhatikan mobil merah. Setiap kali kau melihatnya, catat. Di mana kau melihatnya. Kapan kau melihatnya. Berapa lama jeda antara satu mobil merah dan mobil merah berikutnya. Apa yang terjadi setiap kali mobil merah lewat.”
Damar mencoba mengerti, meski kata-katanya masih menggantung di udara seperti asap.
“Pada awalnya,” ujar Rendra, “kau akan menganggap mobil merah itu kebetulan. Kau akan pikir itu hanya sesuatu yang muncul tanpa makna. Tetapi jika kau memperhatikan cukup lama, kau akan melihat pola. Kau akan tahu kapan mobil merah berikutnya akan muncul bahkan sebelum ia muncul. Kau akan tahu apa yang dibawa kemunculannya: perubahan cuaca, perubahan arah angin, perubahan emosi orang-orang di dalam bus.”
Damar mengerutkan dahi. “Apa hubungannya dengan politik?”
Rendra melihatnya langsung, dengan tatapan yang membuat waktu seolah berhenti.
“Segalanya,” katanya.
Rendra bersandar kembali, seolah kalimat itu sudah cukup, tetapi ia masih melanjutkan.
“Dalam politik, sebagian besar orang bergerak tanpa pola. Mereka bereaksi, bukan bertindak. Mereka mengikuti arus. Mereka menyesuaikan diri dengan keadaan seperti daun kering yang mengikuti angin. Mereka melihat sesuatu terjadi, dan baru kemudian berpikir apa yang harus dikatakan setelahnya. Itu adalah hidup yang pasif. Itu bukan politik.”
Damar menyimak.
“Kau,” lanjut Rendra, “tidak boleh menjadi daun kering. Kau harus menjadi orang yang melihat mobil merah. Kau harus melihat pola sebelum pola itu menjadi kenyataan bagi orang lain.”
Ia mengangkat jarinya, perlahan, seolah mengangkat sesuatu yang sangat berat meski tidak terlihat.
“Kau harus memperhatikan masyarakat seperti kau memperhatikan jalan. Ada peristiwa yang tampak kecil, sepele, tidak penting tetapi sesungguhnya itu penanda. Kau harus belajar merasakan kapan sebuah perubahan mulai tumbuh, bahkan sebelum ia terlihat. Kau harus tahu kapan komitmen mulai retak, bukan saat keretakan itu terlihat, tetapi saat getarannya mulai terdengar begitu pelan hingga hanya orang yang tidak pernah tidur yang bisa mendengarnya.”
Damar merasakan sesuatu mengendap pelan di dadanya. Kata-kata itu tidak menjelaskan apa-apa secara langsung tetapi justru karena itulah kata-kata itu menembus lebih dalam.
“Jadi,” Damar berkata perlahan, “mobil merah itu… adalah tanda.”
Rendra mengangguk. Tanda bahwa sesuatu sedang berubah. Bahwa sesuatu sedang bergerak. Bahwa sesuatu, di luar jangkauan mata orang lain, sedang menyusun wujudnya. Ia berhenti sebentar, seolah memberi ruang bagi makna untuk duduk di kursi di antara mereka.
“Dalam tim ini,” lanjut Rendra, “kau sudah melihat mobil merah itu. Kau hanya belum berani mengakui.”
Damar menunduk. Dadanya menegang. Ia tahu yang dimaksud Rendra. Ia tahu ia sudah melihatnya. Ia hanya menolak penglihatannya sendiri.
Suara jam di dinding berdetak lambat, tetapi setiap detiknya terasa seperti pukulan yang memisahkan sesuatu di dalam dirinya. Damar merasa pikirannya bergerak ke tempat yang jauh sebuah ruang yang tidak ia jamah sejak ia memutuskan terlibat dalam politik. Ruang itu berisi pertanyaan yang tidak pernah ia jawab, hanya ia alihkan.
“Aku percaya pada dia,” kata Damar akhirnya, suara itu terdengar seperti suara seseorang yang sedang mengaku pada dirinya sendiri.
“Keyakinan,” sahut Rendra, “adalah bahan bakar perjalanan. Tetapi bahan bakar itu akan habis. Dan ketika habis, kau harus memilih: berhenti, atau menggantinya dengan sesuatu yang lain.”
Damar mengangkat kepala perlahan.
“Apa yang harus saya lakukan?” tanyanya.
Rendra kembali tersenyum. Senyum itu bukan senyum kemenangan atau sinisme. Itu senyum seseorang yang sudah melihat lingkaran kehidupan berjalan berulang kali dan tahu bahwa tidak ada jawaban akhir.
“Kau harus terus memperhatikan mobil merah,” katanya.
“Dan ketika mobil merah itu berhenti di depanmu, kau harus memutuskan apakah kau naik, atau kau biarkan ia pergi.”
Malam semakin larut. Namun di dalam diri Damar, sesuatu baru saja dimulai. Ia keluar dari ruangan itu seperti seseorang yang melangkah keluar dari sebuah mimpi yang terlalu mirip kenyataan. Udara malam terasa dingin, tetapi pikirannya terasa lebih panas dari sebelumnya. Ia berjalan melewati lorong-lorong gedung yang gelap, mendengar gema langkah kakinya sendiri, seolah gedung itu kosong, meski ia tahu ada banyak orang yang belum pulang.
Ia memikirkan jalan panjang yang harus ia lalui. Ia memikirkan mobil merah. Ia memikirkan pola. Ia memikirkan keheningan yang menyimpan ancaman lembut. Ia memikirkan keyakinannya. Ia memikirkan kemungkinan kehilangan. Dan ia tahu, mulai saat ini, ia tidak akan melihat dunia dengan cara yang sama lagi. Karena sekarang ia tahu bagaimana memperhatikan. Ia tahu bagaimana melihat. Dan yang paling menakutkan dari semuanya. Ia tahu bahwa ia sudah mulai melihat tanda-tandanya. Mobil merah itu sudah berada di jalan. Ia hanya perlu menunggu dan memutuskan.