Hari Hari Yang Menyerupai Orang Lain
Tidak ada sesuatu yang berubah secara tiba-tiba. Perubahan tidak datang seperti gempa atau badai. Ia datang seperti debu yang menetap di permukaan meja: begitu halus, begitu ringan, begitu mudah diabaikan. Sampai suatu hari, kau menyadari meja itu tidak lagi berwarna asli. Begitulah yang terjadi pada hari-hari Damar berikutnya.
Ia bangun pada jam yang sama setiap pagi, mengikat sepatu dengan gerakan yang sama, berjalan keluar dari kamar dengan langkah yang tidak berubah, namun ia merasakan sesuatu yang ganjil seolah tubuhnya bergerak lebih dulu dan pikirannya tertinggal di tempat lain. Ia merasakan dirinya berjalan, bekerja, tersenyum, berbicara, tetapi ia tidak berada di dalam tubuhnya.
Semua berjalan seperti biasa. Tapi biasa itu terasa asing. Pertemuan rapat selalu dimulai dengan daftar kegiatan yang harus dilakukan: pertemuan warga, audiensi, penyusunan rencana program, pembahasan draf kebijakan yang entah untuk siapa. Dan di antara semua aktivitas itu, hal kecil mulai terjadi.
“Untuk proposal ini, kita perlu beri prioritas wilayah A,” kata salah satu anggota tim muda.
Damar bertanya, “Mengapa wilayah A?”
Jawabannya datang cepat, terlalu cepat.
“Karena pendukung di sana lebih solid.”
Kalimat itu diucapkan dengan nada datar, seolah hal itu adalah kebenaran yang sudah lama diterima. Padahal, beberapa bulan sebelumnya, semua orang di ruangan itu akan menggunakan kata kebutuhan masyarakat, bukan dukungan suara.
Itu adalah mobil merah pertama. Kecil. Tidak mengancam. Tidak penting jika tidak diperhatikan. Tetapi Damar memperhatikan.
Hari berikutnya, seorang koordinator wilayah mendatangi kantor. Ia membawa daftar warga yang membutuhkan bantuan sosial. Tetapi ia membisikkan sesuatu sebelum menyerahkan daftar itu.
“Kalau bisa, yang ini didahulukan dulu. Mereka orang kita.”
Damar merasakan hawa dingin menyusup ke dalam tenggorokannya. Kata orang kita terdengar lebih tajam daripada pisau.
Mobil merah kedua. Tidak ada yang bereaksi. Tidak ada yang merasa ada yang salah. Semua tampak berjalan seperti sebuah prosedur wajar dalam sistem yang lebih besar daripada mereka.
Damar menulis di buku catatannya:
Orang kita = garis pemisah yang baru.
Ia menulis dengan huruf kecil. Seperti seseorang yang tidak ingin orang lain mengetahui bahwa ia sedang mengingat sesuatu dengan sangat serius.
Malam itu, ia berjalan sendirian menuju kopo pelatihan kader di sebuah gedung tua. Di sepanjang jalan, lampu jalan memancar dengan cahaya yang redup, seperti sedang berusaha bertahan dari kegelapan yang jauh lebih kuat. Damar menatap bayangannya sendiri di aspal panjang, tipis, dan bergerak dengan cara yang tidak sinkron dengan tubuhnya.
Ia teringat kata-kata Rendra, “Mobil merah akan muncul sebelum kau siap melihatnya. Dan setelah kau melihatnya, kau tidak akan bisa pura-pura tidak tahu.”
Damar jadi bertanya-tanya:
“Lebih mudah mana menjadi orang yang tidak melihat, atau menjadi orang yang tahu terlalu banyak?”
Dalam pelatihan itu, anggota legislatif yang mereka dukung berbicara di depan. Suaranya lembut, penuh keyakinan, seperti dulu. Kata-katanya belum berubah sepenuhnya. Ia masih berbicara tentang keadilan, pemerataan, kesetaraan.
Namun nada-nya berubah. Ada sesuatu yang mengeras di tengah kalimatnya. Sesuatu yang seperti struktur. Sesuatu yang seperti kepentingan.
Ia berkata:
“Kita harus memperluas jaringan kita. Kita harus menjaga suara kita.”
Suara kita, Sebuah frasa yang terdengar wajar dari seorang politisi. Tapi tidak wajar dari mulut seseorang yang dulu mengatakan:
Kita bekerja untuk mereka, bukan untuk kita.
Itu adalah mobil merah ketiga. Damar merasakan jantungnya berdetak pelan, seperti sedang menahan diri untuk tidak jatuh.
Setelah acara selesai, Damar duduk di kursi plastik sendirian. Suara orang-orang mulai menjauh, tapi ia tetap tinggal di ruangan itu, seolah ia tidak yakin apakah kakinya mampu membawa tubuhnya pulang.
Lampu di atas berkedip pelan. Udara ruangan terasa seperti abu dalam bentuk gas. Rendra duduk di kursi beberapa baris di belakangnya. Tidak ada suara ketika ia duduk. Seolah ia memang sudah ada di sana sejak lama.
“Sudah berapa mobil merah yang kau lihat?” tanya Rendra, tanpa membuka mata.
“Tiga,” jawab Damar, suaranya hampir tidak terdengar.
Rendra mengangguk pelan, seolah angka itu bukan angka acak.
“Tiga adalah jumlah yang berbahaya,” katanya.
“Karena tiga berarti pola itu sudah dimulai.”
Damar menutup matanya. Ia tidak ingin melihat lagi. Tetapi kini ia tidak bisa tidak melihat. Setiap interaksi, setiap keputusan, setiap penyesuaian kecil dalam strategi politik, semuanya menjadi tanda. Seperti garis tipis yang semakin jelas di dinding yang retak. Retaknya bergerak.
Hari-hari itu berjalan dengan keheningan yang berat. Tidak ada ledakan. Tidak ada konflik. Tidak ada debat besar yang menandai bahwa arah perjuangan telah berubah. Yang ada hanya: Perubahan bahasa, Perubahan cara menyebut masyarakat, Perubahan prioritas, Perubahan pola pikir.
Dan perubahan itu tidak lahir dari kebengisan, keserakahan, atau niat jahat. Perubahan itu lahir dari kebiasaan. Kebiasaan mengatur, menguasai, memilah, memilih, menilai, memutuskan. Kebiasaan yang perlahan membuat manusia merasa lebih tinggi daripada yang mereka layani.
Damar mulai menyadari bahwa perubahan paling berbahaya adalah yang tidak terasa. Seperti seseorang yang tenggelam dalam air yang naiknya satu sentimeter setiap hari. Ia tidak merasakan dirinya tenggelam. Sampai ia tidak bisa bernapas.
Dan di tengah semua itu, Damar merasa semakin jauh dari dirinya sendiri. Semakin hari ia merasa seperti seseorang yang memerankan dirinya bukan dirinya sendiri. Ia masih berbicara tentang keadilan. Ia masih bekerja dengan orang-orang yang dulu ia kagumi. Ia masih menulis rencana untuk masyarakat miskin.
Tetapi setiap kata terasa seperti bayangan dari kata lain yang sudah hilang. Seperti salinan yang kehilangan aslinya. Seperti suara yang mulai kehilangan sumbernya. Malam-malam itu, Damar duduk di depan cermin, tapi tidak pernah menemukan wajahnya sendiri. Yang ia lihat hanyalah seseorang yang sedang berusaha mengingat siapa ia dulu. Dan pertanyaan itu menggantung di udara, seperti asap dari lilin yang hampir padam:
Apakah masih mungkin kembali?
Atau apakah perjalanan ini hanya memiliki satu arah maju ke titik di mana diri seseorang tidak lagi dapat dikenali, bahkan oleh dirinya sendiri? Dan dari kejauhan, di jalan raya yang tidak terlihat dari jendela kamarnya. Sebuah mobil merah melintas. Perlahan. Seolah menunjukkan sesuatu. Yang hanya bisa dilihat oleh orang yang sedang menunggu.