Cerita

Jarak Yang Tak Pernah Terjembatani

Oleh: Damar • Tanggal Publikasi: 2026-10-18 • Dokumen #8

Tidak pernah ada kata yang benar-benar diucapkan tepat pada waktunya. Damar selalu terburu-buru, tetapi pada saat yang bersamaan tertinggal jauh dari dirinya sendiri. Ia berjalan, berlari, duduk, tetapi di setiap ruang yang ia masuki, ia selalu terlambat menjadi dirinya yang seharusnya hadir. Kekasihnya sebut saja Sesan hidup dalam bayangan langkah itu. Bayangan yang panjang, memanjang sampai melewati batas siang dan malam, kadang melewati batas kota, kadang melewati batas yang sulit dijelaskan oleh bahasa apa pun.
Pada awalnya, hubungan mereka seperti gagasan yang jelas: dua orang yang saling menghampiri dari ujung jalan berbeda, berjalan perlahan namun pasti, dan pada satu titik akan bertemu, bersentuhan, dan mengikat satu sama lain. Tetapi waktu tidak pernah berjalan lurus. Jalan yang seharusnya lurus itu ternyata berkelok, sedikit miring, kemudian runtuh, dan berubah menjadi lorong-lorong kecil yang penuh kabut dan suara samar.
Yang paling menyakitkan bukanlah jarak fisik, melainkan jarak yang tumbuh dari kata yang tidak pernah sempat diucapkan. Damar menghilang bukan dengan pergi, tetapi dengan terus hadir dalam bentuk yang kosong. Ada titik dimana ia duduk menghadap layar telepon, mengetik satu kalimat sederhana Aku merindukanmu namun jari-jarinya terhenti sebelum sentuhan terakhir pada layar, seperti ada sesuatu yang menahan, sesuatu yang tidak terjelaskan.
Waktu itu, ia berkata pada dirinya sendiri bahwa kerinduannya tidak perlu diucapkan, karena ia yakin perempuan itu sudah tahu. Keyakinan itu berubah menjadi kebiasaan, kebiasaan menjadi kepastian yang tidak lagi dipertanyakan, dan lama-lama kepastian itu membusuk seperti bunga yang dibiarkan di dalam vas tanpa air, berdiri tegak namun membusuk dari dalam.
Sementara Damar tenggelam dalam kampanye yang tak berujung pertemuan rapat yang berlangsung sampai malam, diskusi yang berubah menjadi perdebatan, perdebatan yang berubah menjadi pertikaian, dan pertikaian yang akhirnya hanya tinggal diam yang mencekik Sesan menunggu dengan cara yang aneh: ia tidak menangis, ia tidak marah, ia tidak meninggalkan pesan-pesan panjang penuh keluh kesah. Ia hanya diam. Diam yang dalam. Diam yang menyentuh bagian-bagian tubuh seseorang yang tidak pernah bisa diungkapkan lewat bahasa.
Ia duduk di kamar kos yang sempit, ditemani sinar lampu kuning yang redup. Jam dinding berdetak tetapi tidak bergerak, seolah-olah waktu hanya berjalan bagi orang lain. Telepon genggam tergeletak di atas meja, mati, namun terasa berat seperti ada sesuatu yang ia tunggu untuk muncul, meski ia sendiri tidak tahu apa yang sedang ia tunggu.
Dalam diam itu, ia hidup bersama bayangan Damar. Bukan Damar yang nyata, tetapi Damar yang ia ingat. Senyuman kecil ketika keduanya masih sering berjalan kaki ke halte bus. Tawa ringan ketika mendiskusikan hal-hal sepele. Gerakan tangan yang lembut ketika mengambil gelas. Semuanya seperti film bisu yang berulang, tetapi semakin lama semakin kabur. Pada suatu titik, bayangan itu tidak lagi memiliki wajah. Yang tersisa hanya siluet, tubuh, dan langkah.
Sementara itu, di kota lain di antara gang sempit, spanduk kampanye, dan suara pengeras suara yang bergetar Damar berdiri di tengah kerumunan. Ia mendengar suara orang-orang: permohonan, keluhan, harapan, kekecewaan. Semua suara itu masuk ke dalam dirinya tanpa ia mampu mengolahnya. Seolah-olah mereka semua berbicara bahasa yang pernah ia pahami, tetapi kini menjadi asing. Ia mengangguk, ia tersenyum, ia menjabat tangan, tetapi tidak ada satu pun yang benar-benar tersentuh olehnya.
Di sela kerumunan itu, ia merasa ringan terlalu ringan seakan tubuhnya adalah asap yang bergerak mengikuti arah angin. Ia merasa sedang bergerak, tetapi ia tahu ia tidak benar-benar bergerak. Ia berada di tengah banyak orang, namun jarak antara dirinya dan dunia semakin luas.

Dan di sela semua itu, ada satu pikiran yang muncul seperti bisikan:
Sesan sedang menunggu.
Namun pikiran itu berlalu seperti iklan yang tidak pernah benar-benar diperhatikan. Ia tahu, tetapi ia tidak bertindak. Bukan karena ia tidak peduli, tetapi karena sesuatu yang jauh di dalam dirinya telah berubah menjadi mekanisme yang dingin, yang terus berjalan tanpa bertanya pada hati.
Sesan merasakan perubahan itu lebih dulu dari Damar. Perubahan itu bukan hadir tiba-tiba, tetapi seperti air yang merembes pelan ke dalam pori-pori dinding, mengubah struktur batu menjadi rapuh.
Ia mulai menanyakan hal-hal yang tidak pernah ia ucapkan:
Apakah mencintai seseorang berarti harus selalu menunggu?
Apakah menunggu berarti cinta?
Apakah kesetiaan berarti diam?
Atau aku hanya terluka tetapi tidak sadar?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak punya jawaban. Dan barangkali, tidak seharusnya dijawab.
Pada satu malam yang dingin, Damar mencoba menghubungi Sesan. Telepon berdering, sangat lama, sampai suara sambungan otomatis mengambil alih. Ia menutup teleponnya tanpa rasa terkejut. Ia membaringkan diri, menatap langit-langit kamar hotel yang kosong dan putih. Putih yang terlalu putih, sampai membuatnya merasa tidak memiliki warna sama sekali.
Ia memejamkan mata.
Di dalam gelap, ia melihat wajah Sesan. Tetapi wajah itu tidak jelas kabur, jauh, seperti dilihat dari balik kaca berembun. Ia mencoba mengingat detailnya: garis dagu, sorot mata, bentuk bibir. Semuanya terasa berada di luar jangkauan. Ia seperti seseorang yang mengingat rumah masa kecilnya tetapi tidak lagi tahu bentuk pintunya.
Ia sadar saat itu:
Bukan jarak fisik yang memisahkan mereka.
Tetapi waktu yang tidak pernah mereka bagikan bersama.
Sesan pada malam yang sama duduk di tepi ranjang, memegang telepon yang tidak ia angkat. Ia tahu Damar menelepon. Tetapi ia merasa jika ia mengangkat telepon itu, suara mereka akan jatuh seperti batu ke dalam sumur yang dalam tidak membawa arti apa pun.
Ia merasa terlalu lelah untuk berbicara.
Tetapi di balik kelelahan itu, ada sesuatu yang lain: cinta yang tetap ada, tetapi tidak memiliki tempat untuk berdiam.
Mereka saling mencintai. Itu tidak pernah dipertanyakan. Namun cinta itu berubah menjadi benda yang tidak memiliki tangan untuk merangkul, tidak memiliki suara untuk memanggil. Cinta mereka adalah benda yang berat dan dingin. Seperti batu yang tenggelam ke dasar sungai, tetapi tidak pernah hilang.
Kadang, Sesan bermimpi. Dalam mimpinya, Damar pulang. Ia mengetuk pintu. Ia tersenyum. Mereka duduk bersama, tidak berbicara, tetapi semuanya terasa cukup. Namun ketika ia terbangun, suara ketukan itu masih menggema, memudar perlahan, meninggalkan kekosongan yang lebih besar daripada sebelum mimpi dimulai.
Kadang, Damar juga bermimpi. Dalam mimpinya, ia kembali ke masa ketika ia belum mengenal dunia politik, belum mengenal rapat panjang, belum mengenal mobil merah, belum mengenal suara-suara yang saling tumpang tindih menuntut sesuatu darinya. Ia kembali menjadi pria yang sederhana, yang bisa duduk diam selama berjam-jam bersama Sesan hanya untuk sekadar berbicara tentang hal-hal tanpa tujuan.
Namun ketika terbangun, ia merasa tubuhnya berat seperti seseorang yang telah berjalan terlalu jauh hingga ia tidak lagi ingat titik awalnya.
Tidak ada yang berakhir. Karena untuk sesuatu berakhir, ia harus terlebih dahulu diselesaikan. Hubungan mereka tidak selesai. Ia hanya berjalan, terus berjalan, tanpa bentuk, tanpa arah.
Mereka tidak meninggalkan satu sama lain. Mereka hanya berada di dua tempat yang berbeda dalam waktu yang sama tempat yang tidak bisa dihubungkan oleh perjalanan, pesan, atau doa.
Mereka berada di dua sisi yang saling menatap, namun dipisahkan oleh kaca yang sangat tebal. Mereka bisa melihat satu sama lain. Namun tidak bisa menyentuh satu sama lain. Dan itulah yang paling menyakitkan. Cinta mereka tetap ada.
Tetapi ia hidup sebagai sesuatu yang tidak bisa diwujudkan. Tidak hilang. Namun tidak pernah benar-benar hadir.